|| purwoko.staff.ugm.ac.id ||

sesungguhnya ada hikmah di sekitar kita, untuk menjadi arif dan bijaksana
Random Image

Seorang Pustakawan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. Berjuang keras untuk mendapatkan kearifan. Bukan seorang yang luar biasa, hanya biasa saja...


Diskusi tentang GPL/Opensource

Yang saya posting dibawah ini, adalah jawaban atas diskusi yang ada pada sebuah wall Facebook. Wall tersebut adalah wall aplikasi perpustakaan. Aplikasi tersebut adalah aplikasi yang dijual dan tidak dilisensikan dibawah GPL v.3. Padahal ada pengakuan di wall, bahwa aplikasi tersebut menggunakan 30% code SLiMS.
Yang saya pahami, jika menggunakan GPL maka turunan harus GPL.

Sayangnya, pengakuan 30% tersebut sekarang telah dihapus dan tidak ada dokumentasinya. Maka untuk lebih baiknya, saya tidak menuliskan nama aplikasi tersebut.

Berikut adalah jawaban saya terkait diskusi mengenai GPL di wall tersebut yang sekarang telah dihapus, untungnya saya masih ada dokumentasinya.

Mohon maaf, bisa jadi apa yang saya pahami tentang GPL, khususnya v.3 belum pas dan masih ada kesalahan. Mohon koreksinya:

——————–

1. Gratis tapi tidak gratis -> saya kira jelas, bahwa gratis bukan identifikasi dari OS
2. Kita permudah saja diskusi ini dengan cerita ini:
Ada orang yang membuat program, kemudian dia ingin semua orang dapat mereview programnya, memodifikasi dan menyebarkan kembali. Maka dia memberikan lisensi GPL v.3. Dan dia ingin segala turunan dari program itu juga berlisensi GPL.
Nah suatu ketika ada yang menggunakan program dia, tepatnya sourcecodenya untuk dikembangkan, baik sebagian maupun seluruhnya. Setelah jadi dia jual, tapi ternyata setelah dijual dia mengurangi hak orang lain terkait kebebasan yang sebagaimana yang diinginkan si pembuat pertama sesuai lisensi GPL.
Bisakah si pemodifikasi ini disebut sebagai melanggar hak/lisensi? Karena setelah sampai pada si pemodifikasi, idealisme pembuat pertama menjadi terhambat.

3. Jika seserorang mengembangkan program berlisensi GPL, maka dia harus ikut aturan GPL. Jika tidak, dalam arti dia akan memotong hak kebebasan pada lisensi ini makas sebaiknya dia tidak menggunakan program berlisensi GPL. Lebih baik dia membuat dari awal. Di sini perlu jelinya seorang programmer menggunakan kode yang tersebar diinternet, tahu apa lisensinya dan tahu apa konsekuensi dari lisensi itu. Ketahui dulu lisensinya, keinginan pembuatnya dan hormati lisensi itu beserta segenap konsekuensinya

4. Bagaimana jika seorang programmer menemukan pada program non-GPLnya (proprietary) ditemukan source-code berlisesnsi GPL? maka ada beberapa pilihan.
a. Dia harus menghilangkan semua code berlisensi GPL itu
b. Dia harus memberikan lisensi GPL keseluruhan program
c. Dia harus negosiasi pada pemilik source-code (pencipta pertama) yang dia pake, agar mendapat ijin menggunakan dalam bentuk lisensi yang berbeda.

5. Point 4 di atas, jelas menerangkan etika dalam GPL. Jika memotong lisensi GPL maka dia harus minta ijin. Kan code itu bukan dia yang bikin?

6. Bagaimana jika menyebarkan hasil modifikasi, termasuk theme yang katanya berhak cipta sesuai UU ITE padahal tidak diijinkan oleh pemodifikasi?
Sebelum sampai pada kasus ini, sebenarnya si pembuat/pemodif sudah melanggar GPL terlebih dahulu. Jadi sebelum ke UU yang lain, GPL sudah dilanggar.
Pengubahan lisensi/pengurangan hak pada lisensi GPL = pelanggaran penyebaran theme.

7. GPL aturan dasarnya = proprietary. Minta ijinlah kepada pemilik jika ingin berbuat sesuatu yang lain daripada yang disebutkan dalam lisensi. Dalam hak cipta juga demikian, “dilarang…… tanpa ijin dari penulis/pemegang lisensi”. jadi kalau ingin berbuat sesuatu yang berbeda dengan lisensi GPL terhadap code yang berlisensi GPL ya harus ijin ke pemilik lisensi atau membuat dari awal, atau menggunakan lisensi opensource yang lebih longgar. Kalau tidak ijin=penjiplakan.
Dalam hukum ada yang disebut “fair use”. Dalam UU Hak cipta ini ada pada pasal 15, yaitu sebuah produk digunakan dalam pendidikan atau penelitian. Nah bagaimana dengan produk berlisesnsi GPL? Justru produk GPL sangat mendukung pendidikan dan penelitian untuk kemanfaatan dan juga penyebaran ilmu pengetahuan.

8. GPL harus disandingkan ITE. Maaf saya awam hukum, tapi menurut kajian hukum terkait opensource dan hukum di indonesia, tak ada yang bertentangan dan justru sesuai dengan hak cipta. Hak cipta GPL ada pada si pemilik lisensi/pembuat pertama = hak cipta secara konvensional. Artinya jika keinginan pencipta pertama program GPL terkait ciptaannya dilanggar itu sama dengan ketika sebuah produk proprietary dicopy dan disebarkan tanpa ijin pemegang lisensi.

9. Coba kita kembalikan ke filsafat dasar Gerakan FOSS. Kenapa FOSS (khususnya GPL) menyediakan kemerdekaan untuk melihat sourcecode, memodif, menyebarkan dan segenap turunannya harus berlisensi GPL?
Karena ini akan mendukung percepatan penyebaran pengetahuan. Ilmu pengetahuan digunakan untuk kemaslahatan ummat manusia sehingga semua berhak untuk melihat code, memodif dan menyebarkan kembali. Sourcecode yang berlisesnsi GPL diharapkan dapat membuat semua orang dapat mempelajari dan akhirnya pengetahuan dapat tertransfer dari si pembuat code ke orang lain, begitu seterusnya.
Hal ini sudah dapat dirasakan hasilnya. Berapa banyak orang yang akhirnya dapat melakukan remastering Linux, berapa orang yang akhirnya dapat mempelajari programming bahkan tanpa sekolah programming.

Ada buku menarik terkait ini “Lisensi Copyleft dan Perlindungan Opensource software di indonesia” penulisnya Ika Riswanti Putranti. Penerbit Gallery Ilmu 2010.

————-

Berikutnya juga postingan jawaban saya pada sebuah diskusi di group SLiMS:

keterangan:
>>=saya
>=Fulan

>>Saya merasa, selama ini ketika kita membeli sebuah aplikasi, kebanyakan bukan membeli, tapi menyewa.

>Dilema juga menggunakan atau memodifikasi opensource GPL v3 tsb, mengapa? di satu sisi katakanlah”tertolong” karena opensource - codenya terbuka jadi para programmer bisa belajar tentang pemrograman,akan tetapi tidak mempunyai lisensy - lisency selalu dibawah GPL.

>> Itulah yang disebut sebagai konsekuensi mas. GPL, khususnya v.3 saya sering menyebut sebagai bentuk aturan gotong royong di era digital. Gotong royong, bukan berorientai uang, tapi penghargaan pada orang yang ikut gotong royong dan bersifat pengembangan komunitas/kebersamaan. Sedikit unsur “uang” dalam proses gotong royong.

>programmer indonesia ingin bisa menciptakan suatu karya tersendiri dengan munculnya open source ini bukan sebatas pakai, ganti template tanpa ada perkembangan lebih lanjut.

>> dan setahu saya sudah ada mas? KOHA itu opensource, SLiMS opensource, GDL juga, dan kesemuanya dipakai tidak hanya di negara pengembang, tapi sudah lintas negara. SLiMS dan GDL produk indonesia, sekedar menyebut dua diantara banyak produk.
Gerakan OS sendiri mendorong orang untuk mengembangkan lebih lanjut kok mas. hanya saja, kondisi perkomunitas sepertinya berpengaruh pada cepat-lambatnya perkembangan ini. SLiMS yang dilempar ke komunitas pustakawan, akan berbeda dengan kernel linux yang dilempar ke programmer.

>dengan adanya belajar ini diharapkan “ini loh buatan indonesia” bukan atau tergantung dari produk luar terus, programmer indonesia saat ini mulai maju dan giat sekali dan kebanyakan masuk ke jajaran team Microsoft dan Borland - Delphi, kenapa karena Hasil karya nya ada dan itu diakui, akan tetapi sayangnya close source., dan sedikit untuk open source karena “nasib dan hasil karyanya tidak jelas/ tidak diakui” .. inilah dunia open source tsb, dan banyak lisensy selain GPL, yg bagus lisency LGPL karena bersahabat.

>>Nah, lisensi akhirnya adalah sebuah pilihan dan bagaimana kita dapat memilih sesuai dengan kebutuhan. GPL juga bersahabat, untuk yang dapat bersahabat dengan GPL. LGPL juga demikian. Relasi antara manusia dan teknologi itu berdasar kompromi dan berbeda antara satu orang dan lainnya. Masuk Microsoft juga bagus, tapi yang perlu diingat microsoft juga punya kepentingan.
“nasib dan hasil karyanya tidak jelas/tidak diakui” Maksudnya?

>pertanyaannya :
>1. sebagai generasi muda IT Indonesia mana yang sebaiknya dipilih - Open source atau Close source ?
>> berbeda antara satu dan lainnya mas. Sebagai orang awam TI saya pilih opensource. OS lebih demokratis dan kesannya egaliter. Saya sering menyebut OS sebagai bentuk gotong royong era digital. Lebih baiknya coba kita pelajari awal kelahiran gerakan Opensource ini. Budaya memberi “gift culture” yang saya ingat, adalah dasar kelahiran gerakan Free/Opensource. Itu kompromi saya saat ini.

>2. Sekarang melalui team Bizpark Microsoft sedang dibinanya beberapa programmer2 indonesia (pengembang) selama dua tahun untuk membuat produk atau program buatan sendiri (made in Indonesia) ?

>>bagus. Tapi ingat, teknologi apapun bentuknya selalu punya “kepentingan”, bahkan Opensource sebagai sebuah gerakan juga punya kepentingan. Saya sendiri mencoba mencari kepentingan apa dibalik itu. Linux, windows, slims, juga punya kepentingan.

>3. Banyak programmer indonesia yg kerja keluar negeri karena di luar negeri diakui, akan tetapi di dalam negeri tidak diakui, dll.ini realita di lapangan.
>> hubungan dengan Opensource?

>4. apakah tidak ingin Indonesia membuat produk sendiri ?
>>Pengen, dan saat ini sudah ada.

>5. Opensource ini bukan buatan rakyat indonesia, akan tetapi hanya modifikasi, kerja keras tapi tetap saja di bwh lisensy GPL, mau sampai kapan terus begini?

>> coba pelajari filosofi Opensource dulu mas. Maksud dari “bukan buatan rakyat indonesia?” bisa diberikan contoh nyata?
Kalau misal GPL dianggap tidk cocok untuk seorang programmer, maka 1) jika dia membuat aplikasi jangan melisensikan dibawah GPL 2) jika dia ingin mengembangkan aplikasi OS, jangan mengembangkan dari yang berlisensi GPL.

Mungkin mas Fulan dapat menjelaskan filosofi Close source/proprietary ?
Menurut mas Fulan, apa kekurangan dari lisensi GPL v.3/opensurce dengan close source?
Mas Fulan sendiri memilih yang mana?

Bookmark and Share

Surat cinta buat mamak (di syurga pastinya) -10 Januari 2011-

bismillah…..

Mak, pa kabarmu di sana?
bolehkan aku mengirim surat ini untukmu,
ku harap Allah juga ridho
amieeen
mak, kini ku tahu
betapa hebatnya engkau
betapa tak hebat coba?
Jika aku melihat suami dan adikku hebat,
pastiah mereka dilahirkan dari orang yg tak hanya sekedar hebat
pasti super hebat
dan itu engkau mak
mak,pastinya engkau (di syurga) bangga kan?
Bagaimana tak banga coba jika aku yg di sini (dunia) saja bangga
lihatlah mak, putramu tumbuh jadi lelaki yg membanggakan
lihat pula mak putrimu, dia juga tumbuh jadi pribadi yg menyenangkan
dari mereka mak, aku belajar banyak
ikhlas, syukur, sabar, kerja keras……,(dan masih banyak mak)
mamak, dulu sekali ketika Allah mengajakmu “pergi”
aku sempat “mengadu” bahkan mungkin juga “marah”
kataku “mengapa Allah kau ajak pergi mamak?” padahal kan aku belum sempat melihatnya ?”
Allah tak menjawab mak saat itu
tapi sekarang mak, Allah menjawabku
aku “melihatmu” di suami dan adikku
mak, aku juga pernah pula “berteriak” pada NYA
kenapa mamak Kau taruh di syurga sekarang ya Allah?
Dan aku tahu mak,
semua karena DIA dan keiklhasanmu (untuk pergi) hanya
karena ingin melihat suami dan adikku menjadi soleh, solehah
bukankah pahalamu yang tak terputus doa dari anak yang soleh dan solehah mak?
Itulah kenapa Allah menjemputmu awal mak
meski mak, semua terasa sakittttttttttt
mamak, aku memang buka siapa-siapamu
melihatmu pun Allah tak memberi waktu
dan aku tak tahu mak, apa doaku slama ini sampai
karena darahmu tak ada padaku
semoga aku dapat pula menjaring pahala menajdikan suami dan adikku bertambah soleh
mak, kau tahu
aku juga pernah bermimpi bertemu engkau
tapi aku lupa kau bicara apa padaku
(kecewa)
aku ingin bercerita banyak mak
tapi mungkin kali ini cukup sampai di sini dulu ya
satu hari nanti entah aku, suami atau adikku pasti akan melanjutkan surat ini
jangan bosan tunggu kami ya mak di syurga
mak aku ingin berdoa untukmu bersama suami dan adikku, dengarkan ya mak

ya Robbi.
Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
Robbi auzi’ni an-asykuro ni’matakallati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala sholihan tardhohu wa adkhilni bi rohmatika fi ‘ibadikash sholihin”, “Ya Robb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”, (Q.S. 27 : 19).

amieeeen

maka ya Robbi, saksikanlah doa ini
buatlah mengguncang kehidpuan ‘arsyiMu

ditulis oleh Fitri Saudah

Bookmark and Share

Degex, linux distribution with LIS apps

Sumber Open-Lib

Pada artikel terdahulu saya pernah berjanji (kepada diri sendiri) untuk melanjutkan proyek puppylib dengan menyertakan free/libre and opensource software (floss) lebih banyak dan lebih mutakhir di bidang perpustakaan dan informasi. Tetapi karena satu dan lain hal akhirnya diputuskan untuk membuat proyek baru yang serupa tapi tak sama. Puppylib sendiri merupakan distro linux dengan beberapa aplikasi perpustakaan hasil remastering dari Puppylinux 4.20. Saat tulisan ini dibuat Puppylinux sudah mencapai release 5 (codename lupu alias “lucid puppy” karena dibangun menggunakan paket binari Ubuntu 10.04 (Lucid lynx))

Jadilah saya memulai proyek baru dengan pindah ke basis Ubuntu, distribusi linux yang memang dipakai sehari-hari di kantor. Hal lain juga karena ubuntu adalah distro besar dalam arti dukungan korporat dan komunitasnya sehingga tidak kesulitan menemukan jawaban apabila ada masalah. Adapun demikian saya tetap merekomendasikan Puppylinux untuk komputer lama karena tidak membutuhkan resource yang tinggi. Puppy juga cocok untuk live-cd internet cafe atau belajar remastering linux karena sudah tersedia utility remastering.

Degex, linux distribution with LIS apps

What’s in a name?


Nama “degex” dipilih karena distro ini didedikasikan untuk “dgek”. Sesederhana itu. Saya akan sangat bersyukur apabila degex bisa juga bermanfaat untuk orang lain, khususnya pustakawan atau mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan dan informasi yang tertarik dengan berbagai macam software di bidang perpustakaan. Degex adalah remastering dari Ubuntu 10.04 LTS (lucid lynx) dengan ukuran 1.8GB. Untuk itu resiko yang ada adalah dibutuhkan resource/spesifikasi komputer yang cukup bagus. Di rekomendasikan minimal RAM 512 MB memory dan kartu grafis support 3D untuk menjalankan compiz.

What’s within?

Aplikasi yang ada di degex ini merupakan aplikasi yang saya pikir penting untuk diketahui dan dipelajari oleh seorang pustakawan atau mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan dan informasi. Beberapa diantaranya merupakan aplikasi yang jarang digunakan bahkan didengar di sini, namun begitu populer di luar negeri seperti marcedit, mendeley atau bibexcel. Ada juga satu aplikasi sistem perpustakaan yang begitu terkenal sehingga banyak digunakan oleh khalayak pustakawan di Indonesia, yaitu Senayan Library Management System (SliMS). Bahkan hadirnya degex juga untuk mempromosikan SliMS ke dunia luar sebagai salah satu produk opensource kebanggaan anak bangsa. Pastinya anda akan mendengar alunan lagu “Indonesia Raya” ketika degex pertama kali beraksi :D

Tentu saja tidak semua software yang ada di degex dibutuhkan. Sebuah atau beberapa software membutuhkan software lainnya agar berfungsi secara optimal seperti bibexcel atau winisis dengan pajek untuk membuat mapping. Yang lain berupa aplikasi mandiri atau wujud sebagai extension atau plugins yang terintegrasi seperti openoffice dengan mendeley, zotero dan mediawiki.

Dan yang tidak kalah penting Degex merupakan distro linux dengan multimedia-ready yang bergaya Mac (thanks to cairo-dock). Ini artinya semua codec yang dibutuhkan untuk memainkan file multimedia telah terinstall dengan baik. Ayoo maaanngggg….

Di bawah ini, saya membuat menu berdasarkan 6 katerogi kategori aplikasi yang secara subjektif mewakili kebutuhan pustakawan :

  1. bibliometric and mapping
      bibexcel
      network workbench (nwb) tool
      pajek
      publish or perish (PoP)
      txt2pajek
      VOSViewer
  2. data mining
      weka
      WinIDAMS
  3. library system
      CDS/ISIS family: isis2xml, isismarc, winisis, xml2isis
      oclc dewey cutter program
      senayan library management system (slims)
      mediawiki
      resourcespace (digital asset management)
  4. metadata tools
      marcedit
      marcview
  5. mindmapping
      freemind
      vue: visual understanding environment
      vym: view your mind
      xmind
  6. reference management
      bibus
      I, Librarian
      JabRef
      Pybliographic
      referencer
  7. thesaurus tools
      TheW
      ThManager
      XRefHTJ
network workbench tool (nwb)
vosviewer-cluster
isismarc-isis2xml
slims - multimedia player
marcedit
marcview
bibexcel
thmanager
stardict - kamus dan thesaurus
publish or perish
slims - z3950 protocol
menu

Diluar pembagian kategori diatas, ada pengurangan dan penambahan aplikasi. Sebagai contoh Stardict (memuat oxford advanced learner’s dictionary, kamus besar bahasa indonesia, tesaurus bahasa indonesia dan beberapa bahasa asing), shutter, chmsee (chm reader), guake terminal, shotwell photo manager menggantikan f-spot, tesseractGUI (the best scanner software), drivel journal editor (blogging client), gwibber, liferea feed reader, fbreader (ebook reader), pdf editor, cheese, gpodder (podcasting tool), skype, pino, ekiga, gtk-recordmydesktoop, bleachbit, poedit (translations editor), Xaos (fractal zoomer), etc.

Saya sudah menginstall banyak plugins untuk firefox yang dirasa penting untuk dimiliki dan digunakan oleh pustakawan dalam kegiatan sehari-hari. Untuk menyebut beberapa diantaranya : zotero, SimilarWeb, mobile barcoder, QR code tag, screengrab, scribefire, fireftp, shareholic, twitterbar, web developer, server spy, dan masih banyak lagi yang lainnya. Menu bookmarks firefox dipenuhi oleh link blog para pustakawan yang menarik untuk disimak dan online tools yang sangat dibutuhkan.

Degex merupakan live-dvd linux karena ukurannya lumayan gemuk yaitu 1,8 GB. Harap maklum. Bagi pihak yang tertarik mencoba ikuti link download berikut ini. Bila ada yang berminat untuk copy secara offline dipersilakan menghubungi saya di nomor ini 081318024601 atau email di cyberariani@gmail.com. Untuk menghindari kesalahpahaman, perlu dikatakan disini bahwa degex adalah hasil remastering dari Ubuntu 10.04 yang memuat banyak aplikasi opensource dan freeware. Oleh karena itu degex juga produk free/libre and opensource sofware (floss) dan dibebaskan bagi siapapun untuk copy tanpa perlu biaya apapun. Yang perlu dipersiapkan hanyalah DVD kosong dan saya akan membakarnya untuk anda.

Terimakasih.

http://vlado.fmf.uni-lj.si/pub/networks/pajek/
|

http://vlado.fmf.uni-lj.si/pub/networks/pajek/

Bookmark and Share

Ibra Foss ke SLiMS, + openbiblio dan siprus to SLiMS

Sebagaimana diketahui, SLiMS memiliki fitur eksport dan import data. Dimana memungkinkan kita membuat sebuah database dengan format csv seperti di SLiMS dan mengimportnya.

Atau mengambil database tertentu untuk kemudian memformat sesuai csv SLiMS dan mengimportnya ke SLiMS.

Pada postingan kali ini, saya akan memberikan sebuah tips untuk mengeksport database IBRA FOSS agar dapat dimodifikasi dan dimigrasikan ke databas SLiMS.

Database IBRA yang saya jadikan rujukan adalah IBRA FOSS yang terdapat di http://mitraperpustakaan.com
Dalam database ibrav3_opensource terdapat beberapa tabel, yaitu:

* abstraksi
* buku
* conifos
* conuser
* digital
* digital_abstraksi
* inventaris
* menu
* statistik
* user

Dalam hal ini yang akan kita migrasikan hanya dari tabel buku, yang memuat data bibliografi koleksi, dan tabel inventaris yang memuat data item buku.

Pertama:
Saya asumsikan yang mencoba memiliki database IBRA. Download file export_ibra.php dan submenu.php di SINI dan copikan di /admin/modules/bibliography/

Kedua:
buat duplikasi sysconfig.inc.php di Senayan anda, caranya klik file tersebut dan copy-paste. File baru hasil copian berinama, misalnya: sysibra.inc.php

Ketiga:
edit file sysibra.inc.php, cari konfigurasi database dan isikan sesuai database ibra anda, misalnya:

define(’DB_HOST’, ‘localhost’);
define(’DB_PORT’, ‘3306′);
define(’DB_NAME’, ‘databaseibra’);
define(’DB_USERNAME’, ‘root’);
define(’DB_PASSWORD’, ‘admin’);

Ingat, konfigurasi ini ada dalam file sysibra.inc.php, bukan di sysconfig.inc.php.

Keempat:
Buka file export_ibra.php yang tadi anda download, yang sudah ada kopikan di
/admin/modules/bibliography/

Cari baris 25 yang berisi :
require ‘../../../sysconfig.inc.php’;
Ubah menjadi:
require ‘../../../sysibra.inc.php’;

Dengan demikian maka export_ibra.php akan membaca database dari sysibra.inc.php yaitu database ibra anda sesuai langkah ketiga.

Kelima:
Buka Senayan anda, masuk ke halaman administrasi, masuk ke modul bibliografi, maka seharusnya anda menemukan tampilan ini:


Keenam:
Lakukan proses eksport, maka anda akan mendapatkan database csv dengan format sebagai berikut:

“Perpustakaan kita”,”2nd”,”isbn”,”Bentang Budaya”,”2010″,”ii; 89 hlm.; ilus “,”700 Puj p”,”Ind”,”Yogyakarta”,”perpustakaan”,”",”<123><345>“,”Pengarang”,”subyek”

Nah, setelah itu anda dapat mengolahnya dengan Openoffice Calc atau Excell, sesuai csvnya SLiMS dan mengimportnya ke SLiMS lewat Modul Bibliography.

Bagaimana dengan jenis database lainnya (openbiblio, phpmylibrary, atau database ibra anda tidak sama dengan contoh di atas), silakan mencoba dengan melakukan modifikasi di export_ibra.php pasti bisa.

Selamat mencoba.

tambahan 12/1/2012. Script migrasi dari OB, Siprus, Ibra ke SLiMS download di sini

Bookmark and Share

JogjaLib.Net

JogjaLib.Net merupakan portal yang misi pertamanya menyatukan katalog perpustakaan, baik yang online maupun tidak online di internet. JLN dikhususkan pada para pengguna SLiMS (http://senayan.diknas.go.id) di Jogjakarta dan sekitarnya. Namun demikian para pengguna aplikasi selain SLiMS dapat pula bergabung, dengan mengkonversi data ke model SLiMS terbelih dahulu. Konversi dapat dilakukan sendiri dengan menggunakan manual yang disediakan tim SDC (dapat diunduh di http://senayan.diknas.go.id/download/docs) atau mengkonversi dengan kreativitasnya masing-masing. Selain itu juga dapat menggunakan jasa komunitas.

Saat ini sudah ada 18 perpustakaan yang berkeinginan untuk bergabung, sebagian besar telah menyetorkan data bibliografinya di JLN. Perpustakaan tersebut terdiri dari SMA, Perguruan Tinggi, LSM, SD, SMP, MAN, dll.

JLN digerakkan oleh komunitas SLiMS Jogjakarta, yang terdiri dari para pustakawan berbagai institusi, dan para mahasiswa ilmu perpustakaan.

Dengan JLN ini, maka para pengguna sistem informasi khususnya SLiMS dapat melakukan publikasi koleksi di internet secara terpadu, serta dapat melakukan P2P Service.

P2P service merupakan fasilitas yang dimiliki SLiMS untuk berbagi data bibliografi. Jika sebuah perpustakaan mempunyai koleksi baru, dimana koleksi itu telah ada dalam data biblio JLN, maka perpustakaan tersebut tidak perlu mengetik ulang deskripsi bibliografinya, cukup mengambil data bibliografi dari JLN.

URL JLN ada di http://jogjalib.net


JogjaLib.Net

JogjaLib.Net



Harapan kami, nantinya akan muncul katalog-katalog bersama yang berdiri berdasar disiplin ilmu tertentu (misal katalog bersama perpustakaan Geografi Se Indonesia) atau berdasar teritori (perpustakaan bersama se propinsi Papua) atau berdasar jenis perpustakaannya.

Terimakasih kepada pak Hendro Wicaksono dkk yang telah mengembangkan SLiMS, semoga dicacat sebagai amal jariah yang mengalir terus pahalanya…. Amin.

Bookmark and Share

SLiMS dan IndoMARC

MARC merupakan kepanjangan dari Machine Readable Cataloging yang merupakan standar penulisan katalog elektronik, Standar metadata katalog perpustakaan ini dikembangkan pertama kali oleh Library of Congress, format LC MARC ternyata sangat besar manfaatnya bagi penyebaran data katalogisasi bahan pustaka ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat, konsep ini akhirnya diadopsi oleh berbagai Negara termasuk Indonesia yang menggunakan INDOMARC.

INDOMARC merupakan implementasi dari International Standard Organization (ISO) Format ISO 2719 untuk Indonesia, format IndoMARC ini terdiri dari 700 elemen bibliografi yang sangat lengkap. Kode MARC ini nantinya akan sangat berguna apabila terjadi proses saling bagi data elektronik antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya, biasanya dikenal dengan istilah Harvesting atau saling pungut. Sumber UPI

Dari penelusuran penulis, ada dua model INDOMARC, versi Dikti dan versi Perpustakaan Nasional. Kebetulan penulis berhasil menemukan Indomarc versi Dikti di sini.

Bagaimana field bibliografi SLiMS? Apakah dapat mengakomodasi tag yang ditentukan dalam IndoMarc. Kita lihat gambar IndoMarc berikut ini: (klik untuk ukuran besar)


IndoMarc versi Dikti

IndoMarc versi Dikti

Ketika membandingkan dengan deskripsi bibliografi di SLiMS, saya menemukan bahwa 98% yang ada dalam IndoMarc versi Dikti ini telah terakomodir di SLiMS. Ada dua tag yang tidak ada dalam SLiMS, yaitu Kode Operator dan Badan Pemilik. Meskipun demikian, Badan Pemilik dalam Indomarc dapat diwakili oleh Location di SLiMS, sementara Kode Operator dapat ditambahkan sendiri dengan menggunakan fitur Custom Bibliographic Record.

Untuk pertukaran data, perbedaan ada pada penamaan tengara. Misalnya di MARC pengarang diwakili oleh 100, maka di SLiMS xml untuk pertukaran data menggunakan MODS.

Bookmark and Share

Plugin Daftar Online di SLiMS

Logo Github Berikut plugin untuk proses daftar ulang anggota perpustakaan yang menggunakan SLiMS. Ini dibuat ketika di perpustakaan saya (Geologi UGM) menghadapi mahasiswa baru yang banyak dan harus memasukkan satu-satu.
Pada awal saya buat sangat jadul, tapi berkat polesan Om Arie Nugraha, jadi lebih ramping.

Dengan cara online para anggota baru dapat mendaftarkan diri dan petugas tinggal mengaktifkan saja. Ketika mendaftar online, keanggotaan masih di disable.

Sayangnya plugin ini masih belum ada fitur upload foto dan pengamanan antispamnya.

Masukkan kedua file ini di /lib/contens/
Kemudian panggil dengan menggunakan /index.php?p=form

File dapat diunduh di sini

Bookmark and Share

Komunitas SLiMS Jogja: sejarah singkat

“All of Us together are smarter than just a few of us” 1

Komunitas ini merupakan komunitas yang mempunyai minat bersama pada perangkat lunak SLiMS. SLiMS merupakan perangkat lunak untuk pengelolaan perpustakaan yang dirilis dengan lisensi opensource (http://senayan.diknas.go.id). SLiMS telah digunakan oleh lebih dari 120 perpustakaan, baik di Indonesia maupun luar negeri. SLiMS sendiri dikembangkan oleh pustakawan di Indonesia dan didukung oleh para programer dari luar negeri.

Ide mendirikan komunitas ini adalah didorong oleh keinginan untuk belajar bersama tentang SLiMS, terinspirasi model komunits Linux dengan visi ingin memerdekaan pustakawan dan meningkatkan kompetensi pustakawan terutama dalam bidang teknologi informasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa masih ada banyak pengelola perpustakaan yang belum mengenal perangkat untuk manajemen perpustakaan. Komunitas SLiMS ingin mengangkat harkat dan martabat pustakawan dengan SLiMS yang menyediakan solusi berbasis komunitas.

Kegiatan yang dilakukan adalah kumpul bulanan belajar menggunakan dan sedikit demi sedikit belajar mengembangkan software SLiMS. Tempatnya bergiliran dan diusahakan free alias tidak berbayar bagi setiap orang yang ingin bergabung.

Komunitas SLiMS berdiri kurang lebih pada bulan Januari 2010, padaa saat ini berkumpul 6 orang di selasar KPTU Fakultas Teknik UGM. Keenam orang ini adalah Purwoko, Budhi Santoso, Sumaryanto, Yusuf, Adi dan Haris. Pertemuan yang kemudian berpindah di perpustakaan Teknik Geologi UGM ini membuat kesepakatan akan ditindaklanjuti dengan acara (yang akan diusahakan) bulanan dengan format awal belajar bersama mengenai SLiMS. Personil yang kemudian bergabung cukup banyak, tercatat ada Tarto, Ari Suseno, Heri Abi; dari luar kota ada Awriel Apria S (Banjarnegara), Hartono (Kudus), Wisnu (solo), Priyanto (solo), Muhtarom (bantul) dan banyak lagi.

Pertemuan kedua pada bulan berikutnya juga diadakah di selasar KPTU Fakultas Teknikn UGM. Pertemuan kedua ini dihadiri oleh 14-an orang baik mahasiswa perpustakaan maupun pustakawan. Di KPTU ini ke 14 orang tersebut belajar upgrade SLiMS dan menginstall SLiMS terbaru. Pada saat acara ini bertepatan dengan seminggu sebelum Mini SDD (Senayan Developers Day) di Jakarta yang dilaksanakan oleh SDC (Senayan Developer Community).

Pertemuan ketiga dilaksanakan di UIN Sunan Kalijaga, tepatnya di masjid darurat UIN (Sebelah gedung serbaguna). Hadir sekitar 34 orang terdiri dari mahasiswa, pustakawan dan bebetulan juga di hadiri oleh 2 developer SLiMS dari Jakarta (Hendro Wicaksono dan Arie Nugraha) yang kebetulan ada acara di IAIN Walisongo Semarang.

Pertemuan keempat dilaksanakan dengan bekerjasama dengan Perpustakaan Fakultas Geografi UGM dan dilaksanakan di lingkungan Fakultas Geografi UGM. Diluar dugaan pertemuan keempat ini dihadiri oleh bukan hanya dari wilayah jogja, namun juga dari Solo, Boyolali, Kudus dan Klaten. Keseluruhan yang hadir mencapai 70-an orang. Pertemuan kali ini membahas tentang upgrade SLiMS dan SLiMS for beginner.

Pertemuan kelima diadakan di Ruang Seminar 1 Fisipol UGM (29 Mei 2010) dengan bekerjasama dengan Perpustakaan Fisipol UGM. Hadir dalam pertemuan ini seratusan lebih dari berbagai daerah, diantaranya Kudus, Boyolali, Klaten, Bantul, Banjarnegara. Pertemuan kali ini diberi tajuk Senayan Community Meetup yang dihadiri oleh kelompok developer senayan dari jakarta (Hendro Wicaksono, Arie Nugraha, Arif Syamsudin dan Wardiyono).

Pertemuan kelima ini cukup fenomenal, karena disampaikan secara langsung oleh pengembang tentang fitur baru di SLiMS stable 14 (Seulanga) dan ide-ide yang akan diterapkan di SLiMS stable 15 (Matoa).

Fitur baru di Seulanga adalah Union Catalog Service, P2P Service, Cetak bukti transaksi, Flexible custom field di membership dan bibliografi. Semetara ide untuk Matoa adalah implementasi third party indexing, P2P paging, pencarian yang baru dan dukungan notasi klasifikasi.

Target komunitas SLiMS kedepan adalah membuat perpustakaan yang ingin menggunakan perangkat lunak untuk otomasi dapat terfasilitasi dengan SLiMS, kemudian perpustakaan yang telah menggunakan SLiMS di Jogja dapat disatukan dalam sebuah katalog induk Jogja, sehingga orang yang ingin mengunjungi perpustakaan Jogja tinggal mengklik satu url saja. Fasilitas untuk Union Catalog ini telah tersedia di Seulanga (Stable 14). Selain itu, bersama dengan para developer, Komunitas Jogja berharap menjadi acuan pembangunan komunitas serupa di daerah lain di Indonesia.

Komunitas SLiMS jogja juga membuka diri untuk diajak bekerjasama dalam pengembangan teknologi informasi perpustakaan berbasis komunitas, baik dengan peerintah kota, kabupaten atau propinsi dalam rangka pengembangan perpustakaan.

Fitur Home

Fitur OPAC

Komunitas SLiMS mempunyai blog di http://slims.blogdetik.com, dan untuk komunitas jogja dapat dihubungi saudara Tarto (081904042823)

Salam..

* jika ada yang masih kurang dari tulisan ini boleh ditambahi, terutama tanggal-tanggal kegiatan

Bookmark and Share

Menggunakan Github

Logo Github Kalau dalam berinteraksi dengan orang lain ada Facebook dengan segala fiturnya, maka dalam melakukan coding/programming ada Github. Sesuai dengan mottonya, Github merupakan Social Coding.

Untuk menggunakan Github dalam melakukan coding secara bersama-sama (sebenarnya bukan hanya coding pemrograman, namun bisa juga untuk berbagi selain pemrograman) kita harus melakukan registrasi dan kemudian mendaftarkan SSH Public Key.

Untuk mendaftarkan SSH Public Key silakan baca manual berikut.

Kemudian melakukan Fork dari projec yang kita ingin bergabung.

Beberapa perintah dalam Git:

git clone git@github.com:slims/s3-doc-id.git s3-doc-id (mengclone projec s2-doc-idnya SLiMS dari github ke folder s3-doc-id lokal) Kode git@github.com:slims/s3-doc-id.git bisa anda dapatkan dari folder projec yang ingin anda ikuti, untuk SLiMS misalnya http://github.com/slims/

Setelah clone, kemudian hasil clone di komputer lokal anda dapat anda buka, anda tambah atau kurangi. Setelah proses pengembangan program di komputer lokal anda selesai, kemudian anda harus mengunggah hasilnya ke server github untuk dapat di satukan dengan apa yang dikembangkan oleh orang lain.

Untuk mengunggah, atau dalam github di sebut push anda harus melakukan beberapa langkah terlebih dahulu:

git add . Keterangan:add [spasi] titik. (perintah ini dilakukan jika ada file baru yang ditambahkan pada sebuah project, misal ada image atau file lain yang dimasukkan)
git commit -a –Keterangan:commit[spasi] minus a [spasi] minus-minus (perintah jika ada perubahan pada sebuah file). Pada perintah commit ini, kita akan diperintahkan untuk menuliskan identitas perubahan yang telah dilakukan. Misalnya “Added: News Module”

Setelah itu, barulah kita push ke server github, perintahnya:

git push git@github.com:slims/s3-doc-id.git master (mengirimkan file dari komputer ke github)

Untuk mengantisipasi, siapa tahu ada orang lain yang sudah melakukan unduh dan mengubah,serta sudah di push, maka kita harus menyatukan apa yang sudah ada di server dengan yang telah kita modifikasi di komputer lokal.

git pull git@github.com:slims/s3-doc-id.git master

Git juga bisa melakukan pull dan push dari komputer lokal anda, contoh perintanya:

git pull ../s3st14-docclone master (mengepull file dari posisi ke s3st14-docclone master)

Git akan melakukan penyatuan dan pencatatan perubahan yang dilakukan. Informasi perubahan dapat dilihat dengan perintah:

gitk

Selain itu, dapat dilihat pula di http://github.com/[nama projec]/commits/master, misalnya http://github.com/slims/s3-doc-id/commits/master

Beberapa manual github dapat dibaca di:

1. Git Guide
2. Tips 1
3. Tips 2
4. Tips 3
5. Git di Wikipedia
6. Git Clone @kernel.org

Bookmark and Share

LiGOS: Library Goes Opensource (Pengalaman di Perpustakaan Geologi UGM)

Gaung opensource di Indonesia, menurut saya sangat kuat. Berbagai komunitas mulai muncul sebagai bentuk penyatuan ide dan minat bersama pada opensource. Ada komunitas Linux, Komunitas Ubuntu, Komunitas SuSe, Komunitas Blender, Komunitas SLiMS dan lain sebagainya.

Kemungkinan perpustakaan migrasi ke opensource sebetulnya sangat besar. Jika dilihat kebutuhan minimal perpustakaan ddapat di cakup oleh software opensource. Operating systems dan kebutuhan perkantoran dapat dicakup oleh Linux dan Openoffice. Untuk otomasi perpustakaaan dapat digunakan software opensource untuk perpustakaan.

Di perpustakaan Geologi UGM, dari 6 komputer yang ada 5 diantaranya sudah opensource, baik operating systems maupun aplikasi perkantoran. Satu komputer yang masih menggunakan OS berbayar karena digunakan untuk membuka sistem informasi perpustakaan lama yang masih berbasis DOS.

Operating systems yang saya gunakan adalah Ubuntu Dekstop, termasuk Server menggunakan ubuntu 8.04 LTS. ISO Linux saya dapatkan dari repo Ubutu di UGM, http://repo.ugm.ac.id, sehingga menjadi mudah dan juga murah. Keculi biaya beli CD, penggunaan operating systems di perpustakaan Geologi UGM bisa dikatakan Rp.0.

Rp.0 ini juga berlaku dalam pembangunan sistem informasi manajemen perpustaaan. Sistem ini saya bangun dengan software opensource SLiMS (http://senayan.diknas.go.id), dengan diawali migrasi database ISIS ke SLiMS pada bulan Februari 2009.

Beruntung sekali, rekan kerja sangat mendukung saya dan meski lebih tua dari saya, beliau sangat menghargai dan mau belajar menggunakan Linux dan SLiMS. Bisa dikatakan bahwa di geologi ugm, perpustakaan dan karyawan perpustakaan merupakan yang pertama menggunakan opensource dibanding unit kerja lainnya.

Berikut beberapa tahapan dan yang harus diperhatikan dalam migrasi perpustakaan ke opensource
1. Kenali kebutuhan
Di Perpustakaan Geologi yang saya temukan adalah kebutuhan software sistem otomasi perpustakaan, aplikasi perkantoran (olah kata, olah angka, olah presentasi), aplikasi internet (browser, Instant Messenger), dan sistem operasi.

2. Temukan jawaban atas kebutuhan
Pada tahab ini saya melakukan pemilihan software opensource pada kebutuhan. Software opensource apa yang akan digunakan untuk otomasi, perkantoran, aplikasi internet dan sistem operasi. Standar minimal dari pemilihan ini adalah standar pada software yang telah digunakan sebelumnya. Misalnya untuk software otomasi, saya membandingkan fitur software opensource pilihan saya dengan fitur software otomasi yang lama. Hal ini untuk mengatasi agar tidak terjadi gap yang terlalu lebar ketika telah bermigrasi ke opensource.
Pada tahab ini juga harus dipastikan kemungkinan keberlanjutan migrasi, SDM yang diplot untuk bertanggungjawab pada pengembangan. Termasuk bagaimana meningkatkan kompetensi SDM pada penguasaan opensource.

3. Kemukakan kepada rekan kerja atau unit.
Mengemukakan ide dan konsep migrasi kepada rekan kerja dan atau unit lain (jika perpustakaanya luas dan punya cabang) menjadi penting untuk memberikan masukan dan mencegah resistensi. Selain itu juga untuk memantapkan bahwa kebutuhan memang akan terpenuhi dengan opensource, serta mendapatkan komitmen bersama.
Dengan proses ini, maka migrasi sebenarnya dilakukan dengan dukungan banyak fihak bukan oleh salah satu orang saja.

4. Menyusun strategi
Tahap ini dilakukan sebagai pedoman dalam menjalankan migrasi. Berisi time schedule, pihak yang dilibatkan, anggaran dan lain sebagainya.

5. Implementasi
Merupakan tahab implementasi atau migrasi ke opensource yang telah ditentukan.

Kurang lebihnya seperti itulah yang saya lakukan, dalam migrasi ke opensource di perpustakaan teknik geologi ugm. Beruntungnya saya adalah rekan kerja yang sangat kooperatif dan mendukung.

Semoga menjadi inspirasi.

Bookmark and Share
  • StatPress

    Visits today: 13
  • Status Alat Komunikasi


    Email: tamanjiwa@gmail.com
    FB: Facebook
  • Postingan Terakhir

  • Komentar Terakhir

  • Uluk salam


    ShoutMix chat widget
  • Awan Tag

  • RSS JogjaLib.Net

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • Kategori

  • Arsip Tulisan

  • RSS Mustoko

  • Admin

  • Plurk-ku