|| purwoko.staff.ugm.ac.id ||

sesungguhnya ada hikmah di sekitar kita, untuk menjadi arif dan bijaksana
Random Image

Seorang Pustakawan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. Berjuang keras untuk mendapatkan kearifan. Bukan seorang yang luar biasa, hanya biasa saja...


Mini Workshop perdana

Rabu 9/5/2012
Workshop MiniRabu siang selepas istirahat diawali dengan makan siang bersama, dilanjutkan dengan acara inti “mini workshop pengelola perpustakaan FT UGM”. Hari itu adalah pertama kalinya personil perpustakaan FT UGM dapat bertemu secara lengkap. Mulai dari pengelola e-lib, koleksi jurnal, kesekretariatan, penjaga malam serta kebersihan.

Acara hari itu adalah sosialisasi rencana kerja perpustakaan FT UGM serta distribusi deskripsi kerja para pengelola Workshop Miniperpustakaan. Acara dilaksanakan di lantai 2 (ruang e-library) dengan total 11 peserta. Kesebelas peserta tersebut adalah Apri Wibowo (kebersihan), Undang Syaefudin, Yayul Safaronah, Yusron, Heri, Sugiman, Sugeng, Tri Widodo, Budi Priyono, Isnaeni Syamsiati, serta Purwoko.

Mengawali acara, Purwoko menyampaikan beberapa hal terkait posisi kerja di perpustakaan FT, disusul penegasan bahwa yang paling dekat secara emosional dengan Perpustakaan FT adalah rekan-rekan kerja yang lama di FT. Forum itu adalah forum untuk semuanya. Purwoko juga menyampaikan prinsip kerja yang hendaknya dipatuhi oleh semua: Kerjasama, Terbuka, Adil dan Terukur.

Acara siang itu berlangsung dengan santai, kadang diselingi dengan guyonan dari beberapa peserta. Pada sesi berikutnya, Purwoko menyampaikan rencana strategis 2 tahun ke depan terkait perpustakaan FT UGM. Rencana tersebut terbagi menjadi 6 bulan pertama, 6 bulan kedua, 1 tahun pertama dan 1 tahun kedua. Purwoko menyadari dengan masih sedikitnya pengetahuan tentang perpustakaan FT UGM maka dia baru mampu membuat rencana sampai pada tahun kedua.

Dari paparan Purwoko, perpustakaan FT pada 6 bulan pertama konsentrasi pada pemantapan fisik, aturan, mekanisme kerja, pemantapan deksripsi kerja. Enam bulan kedua mulai dengan pengembangan SDM perpusakaan untuk persiapan pengelolaan perpustakaan yang dapat dimungkinkan berbeda dengan mekanisme pelayanan yang lama. Satu tahun pertama, terkait dengan teknologi, perpustakaan mulai membahas idealisme terkait pemanfaatan teknologi di perpustakaan. Diantara pemanfaatan teknologi itu adalah sebagai pengamanan, pengelolaan koleksi digital, website, serta pengelolaan koleksi jurnal.

Berbagai usulan, pandangan serta hal yang berkaitan muncul pada mini workshop itu. Ketika para staff diminta untuk memaparkan keinginannya ke depan terkait perpustakaan, dengan semangat dan senang hati mereka memaparkannya.

Kamis 10/5/2012
Workshop MiniKamis itu saya merasa tak banyak yang saya lakukan. Hari itu saya masih memikirkan rekan-rekan kerja saya yang masih kekurangan pekerjaan selama renovasi gedung. Ah.. kasihan sekali. Belum lagi permasalahan lainnya yang saya rasa cukup banyak. Konsep partnership dengan MIC, legalisasi deskripsi kerja, presentasi konsep TI dan perpustakaan ke Wakil dekan 1, jenuhnya menunggu lantai dua direnovasi (yang kabarnya karyawannya libur 2 hari), bahkan kabarnya akan ada sedikit perombakan pada tata ruang perpustakaan, terkait perpustakaan jurusan (ada yang telah minta bantuan terkait perpustakaanya), konsep integrasi, serta PR bagaimana mengembangkan SDM perpustakaan.

Saya masih memprioritaskan untuk konslidasi internal dengan membuat tata aturan yang jelas. Dalam bayangan saya harus ada nilai yang disepakati bersama, aturan ijin, pembuatan aturan/tata tertib ke perpustakaan dan lain sebagainya.

Pagi itu sampai sekitar jam 11 siang saya menghadiri acara Microsoft di MM UGM. Dalam undangan tertulis ada sosialisasi lisensi microsoft, cloud computing dan juga presentasi dari MIC. Sepertinya menarik, apalagi MIC berkantor di Perpustakaan FT UGM.
Di sana saya bertemu dengan mas Arif Surachman (penanggungjawab perpustakaan FEB), yang baru saja diberi kepercayaan untuk maju pada kompetisi pustakawan nasional DIKTI.
Harapan saya di wisma MM itu sepertinya tidak terpenuhi, sesi awal dipenuhi dengan sosialisasi lisensi yang ternyata arahnya ke “jualan”. Sebagai orang yang tida begitu mengenal MS saya merasa jenuh dan akhirnya kembali ke FT UGM bersama mas Arif Surachman.

Bookmark and Share

Senin dan Selasa, 7-8 Mei 2012

Senin dan Selasa, 7-8 Mei 2012 adalah hari ke 3 dan 4 saya berada di Perpustakaan FT UGM.

Hari senin pagi, adalah hari dimana usulan salah seorang rekan kerja dilakukan. Beliau adalah pak Budi yang ketika itu mengusulkan merapikan buku-buku yang berserakan di lantai basement.

Ketika saya melihat di basement, memang benar berbagai bentuk jenis dan dari beraneka tahun koleksi perpustaakaan mangkrak di lantai. Sewajarnya, paling tidak untuk merapikan harus di tempatkan di rak. Pagi itu rekan-rekan kerja saya itu ramai-ramai mengangkut rak dari gudang sebelah timur perpustakaan ke lantai dasar. Tepatnya ada 3 rak. Beramai-ramai pulalah mereka menyusun koleksi pada rak tersebut. Sayangnya rak tersebut 2 sisi, jadinya koleksi yang ada di sebelah dalam sulit terlihat dari luar (rak mepet di dinding).

Sayangnya pula, saya tak sempat (atau tepatnya lupa) mengambil dokumentasi kegiatan rekan-rekan saya tersebut. Sampai pada waktunya, akhirnya pada siang harinya salah satu rekan membeli nasi bungkus untuk dimakan bersama. Tidak saya sangka pula, sebelumnya mereka membeli gorengan dari kantin sebelah dengan uang pribadi. Ah.. ternyata semangat kerjasama rekan-rekan saya sangat luar biasa.

Hari itu pula, saya pertama kali meninggalkan rekan-rekan kerja sama pada jam kerja. Tepatnya pada pukul 13.30 saya menghadiri undangan di Perpustakaan Pusat UGM. Terus terang sebagai orang yang “baru” saya merasa berat meskipun hanya beberapa jam saja dan tidak sampai sore hari (melebihi jam kerja). Di Perpustakaan Pusat, ternyata saya tidak sendiri. Ada para pengelola perpustakaan pusat dan para pustakawan berprestasi. Ternyata agenda hari itu adalah untuk mempersiapkan calon peserta pemilihan pustakawan berprestasi DIKTI.

Hari Selasa….
Briefing pertamaHari selasa 8 Mei 2012 juga mempunyai sejarahnya sendiri. Pagi itu adalah pagi pertama kami melakukan briefing sebelum bekerja. Beberapa hal saya sampaikan, termasuk prinsip kerja: Kerjasama, Terbuka, Adil dan Terukur. Sebelum perpustakaan jadi 100%, harapannnya kita semua saling menjaga dan berusaha kreatif untuk mencari pekerjaan yang sekiranya dapat dilakukan.

Dan benar, sore harinya ternyata kreatifitas beberapa rekan kerja saya terbukti. Ada pak Undang, pak Sugiman dengan dibantu rekan lain berusaha memperbaiki kelistrikan perpustakaan yang saat itu rusak, hasilnya sukses.

Saya sendiri menyadari, bahwa ketika mendorong orang untuk kreatif pasti ada hambatannya. Maka selain mendorong mereka untuk kreatif

Bookmark and Share

Hari kedua di Perpustakaan FT UGM

Hari itu adalah Jumat, tepatnya 4 Mei 2012.
Ada yang istimewa pada hari itu, yaitu acara kumpul bersama dengan pustakawan dan admin TI di berbagai jurusan lingkungan FT UGM. Ide ini sebenarnya muncul dari ngobrol saya dengan mas Apri (Admin TI Geodesi) tentang OJS aka Open Journal System yang kemudian pak Eko Hendrawan (TI Fakultas) mengatakan perlunya pertemuan antara TI dan Pustakawan.

Ngobrol pada jumat pagi itu berlangsung santai, ngalor ngidul sambil kenalan. Ketika menyampaikan informasi diri, hadirin juga menyampaikan apa bidangnya dan apa masalahnya. Saya tidak akan menyinggung permasalahan pada TI, namun hanya pada wilayah pustakawan.
Ketika para pustakawan jurusan diminta untuk bicara, ternyata mereka semua sangat menguasai perpustakaanya. Menguasai dalam arti sekarang perpustakaannya melakukan apa sekaligus masalahnya ada di mana.
Mulai dari minta komputer tapi terus saja di “semayani”, berjuang untuk menata ruang, berkorban agar dapat komputer baru, pustakawan tapi nyambi di sekretariat, perpustakaan tapi tak ada koneksi internet, perpustakaan ada di bekas lab dan lain sebagainya.

Yang membuat saya bangga adalah mereka bertahan dan berjuang untuk mendapatkan idealismenya. Misalnya cerita seorang kawan yang perpustakaannya bekas lab. Dia akhirnya melakukan sayembara redesain ruang, dan kabarnya GOL dan segera direnovasi. Seorang kawan beda lagi, ketika minta komputer tidak diberi, kemudian dia barter dengan insentifnya. Cukup nekad kawan saya yang satu itu…. tanpa perlu saya sebutkan namanya.
Beberapa hal yang pagi itu dapat diformulasikan adalah, terkait dengan OJS untuk pengelolaan jurnal yang dihasilkan jurusan, publikasi layanan Perpustakaan FT yang disupport oleh MIC. Kemungkinan kerjasama untuk mino workshop tentang OJS dan layanan lain, serta pemasangan xbanner di jurusan-jurusan.
Berikutnya disepakati pustakawan jurusan dan fakultas teknik UGm akan berkumpul sebulan satu kali, pada jumat pertama pagi hari.

Gudang dan Sampah

Adalah pak Budi, seorang rekan kerja yang pada pagi itu mengerjakan pembersihan gudang dengan rekan-rekan lain di saat saya dan mas Yusron ikut pertemuan di KPFT UGM. Ide pak Budi beliau lontarkan pada sela-sela ngobrol. Terkejut memang saya waktu itu. Kenapa? ternyata rekan kerja saya kreatif. Saya waktu itu mengatakan silakan berkreasi untuk mencari pekerjaan yang bisa dilakukan sembari menunggu renovasi selesai 100%. Saya kasihan pada rekan-rekan karena otomatis pekerjaan utama mereka mandeg. Mesti ada terobosan untuk membuat mereka dapat “bergerak”, dan itu adalah kegiatan.
Akhirnya, disepakati pula bahwa setelah pembersihan gudang, siang harinya menyiapkan ruangan untuk memasukkan rak di gudang. Rak ini pada hari senin akan diangkut, dipasang dan digunakan untuk menempatkan buku-buku yang sementara dianggap tidak terpakai.

Apakah barang tak berguna hanya ada di gudang itu? ternyata tidak. Ternyata tempat sementara perpustakaan ketika perpus masih direnovasipun bak gudang dengan berbagai barang yang terbengkalai. Siang itu pula saya dan pak Widodo menyambangi dan melihat. Sebagai orang baru, sebenarnya saya mikirnya pendek saja. Serahkan fakultas selesai. Biarlah perpustakaan memikirkan apa yang sekarang ada saja… :)

Ide segar lagi

Adalah pak Undang, yang senangnya guyon dan kadang konyol. Dia adalah rekan KKN sekaligus kuliah saya di S1 Kelas Khusus UIN Suka. Siang itu dia menyampaikan berbagai ide untuk perpustakaan. Salahs atunya adalah pembagian kerja shift. Pak Undang menganggap bahwa sekarang perpus sudah modern dan penggerak perpusnya banyak. Alangkah baiknya kalau buka sampai malam dan dibagi dua shift.

Bookmark and Share

Hari pertama, setelah 7 tahun lebih di Geologi UGM…

Hari pertama saya di perpustakaan FT UGM saya mulai pada 3 Mei 2012. Pada tanggal 2 Mei 2012 saya resmi dilantik untuk menggantikan pak Purwono yang memasuki masa pensiun.
Sebenarnya berat meninggalkan Teknik Geologi UGM. Pada acara serah terima tersebut saya katakan bahwa saya mendapat banyak hal dari Teknik Geologi UGM meskipun pada awalnya saya merasa menyesal bekerja di Teknik Geologi UGM. Bahkan kepada pak Pri (Asisten Dekan bidang Sarana) saya katakan bahwa di Geologi UGM saya merasa diberi kebebasan berkreasi terkait perpustakaan. Inilah yang mungkin tidak didapatkan oleh rekan lain yang ada diperpustakaan jurusan lainnya pada lingkungan FT UGM.

Sore harinya, saya merasa sangat sangat “trenyuh” ketika Jurusan Teknik Geologi menyiapkan acara khusus untuk perpindahan saya sekaligus acara selamat datang untuk 2 karyawan baru. Satu untuk menggantikan saya, satunya lagi untuk menempati posisi arsiparis.
Pada acara itu, saya tekankan lagi bahwa awalnya saya menyesal bekerja di geologi ugm, namun ternyata ada banyak hal yang saya dapatkan di geologi ugm. Geologi UGM ibarat kawah candradimuka yang mendidik emosi, karakter juga skill.

Perpust FT UGM

Pada wilayah kerja baru ini, saya merasa ada hal yang berbeda. Selain saya adalah staff paling muda, saya juga diminta menjadi pemimpin mereka.
Saya berusaha terbuka. Memang ada banyak permasalahan baik sederhana maupun pelik ada di perpustakaan ini. Beberapa hal saya gali, dengan harapan ada yang bisa diselesaikan dan ada yang bisa dipercepat. Dipercepat dalam arti perpustakaan segera memberikan layanannya.
Ada seorang staff yang mengatakan sudah jenuh, 7 bulan tidak bekerja. Ah benar juga ya… bayangkan berbulan-bulan mereka menunggu gedung baru selesai direnovasi, setelah selesai ternyata masih banyak hal yang harus dibenahi alias belum selesai 100%.


Keterbukaan

Sebelum serah terima, ada sms masuk ke HP saya. Intinya mengundang saya pada acara ramah tamah dengan rekan-rekan karyawan perpustakaan FT UGM. Saat menerima sms itu, saya belum dilantik menjadi Pj Kepala Perpustakaan FT UGM.
Ketika saya sampaikan sms itu kepada istri, istri saya mengatakan bahwa itu wujud bahwa mereka benar-benar mengundang dan ingin ngobrol dengan saya.
Akhirnya saya terima dan pada 3 Mei 2012 siang, kurang lebih pukul 11.00 sd 13.00 saya dan rekan rekan pengelola perpustakaan FT UGM (mulai dari pustakawan sampai dengan petugas kebersihan) berangkat menuju Jambon Resto. Di sana kami ngobrol ngalor ngidul tentang perpustakaan FT dan segala pernak-pernik permasalahan serta idealismenya.
Tak disangka, ternyata antusiasme rekan kerja saya luar biasa. Banyak hal saya gali dari pertemuan singkat itu. Bahkan ada usulan yang akhirnya muncul dan banyak inisiatif muncul dari mereka.
Rekan kerja saya orang yang kreatif, tinggal memantik. Insyaallah setelah pantikan itu bekerja akan ada hasilnya. Sabar, tentunya dibutuhkan dalam hal ini. Jika ada masalah, tentunya wajar.
Karakter yang beragam, tentunya menjadi hal tersendiri yang harus diperhatikan, apalagi semuanya lebih sepuh dari pada saya. Selain peran mengarahkan, tentunya saya juga harus menjaga hati mereka sebagai orang yang lebih tua dari pada saya….

Sebenarnya saya masih ingin menahan untuk melontarkan ide saya, namun satu dua ide akhirnya muncul pada acara itu. Mulai dari adopsi model yang saya dapatkan di Jurusan Teknik Geologi UGM yaitu program briefing serta evaluasi berkala.

Ah… rekan kerja saya memang luar biasa.

Bookmark and Share

Lyx to html dengan ELyXer

Elyxer adalah aplikasi yang dibangun untuk konversi dari Lyx ke html.
Saya beberapa kali menggunakan fitur lyx2html yang dimiliki lyx, namun sayang kurang memuaskan.

Saat SDD bulan Maret 2012, saya menemukan Elyxer. bagaimana Penggunaan Elyxer.

Menggunakan Lycid Lynx.
Saat SDD saya menggunakan Ubuntu LL, untuk instalasi dapat langsung dari paket, cukup

sudo apt-get install elyxer

(enter)

Penggunaannya juga cukup mudah, cukup mengetikkan

elyxer file.lyx file.html

Karmic Koala
Ketika di kantor, saya mencoba install di KK, ternyata di paket tidak tersedia. Terpaksa install manual

1. Ambil source code di http://download.savannah.gnu.org/releases/elyxer/
Pastikan dalam komputer anda ada program Phyton
2. Ekstrak file yang masih dikompress
3. Masuk ke direktori hasil ekstrak
4. # python install.py
5. Selesai.
Cara menggunakannya:
$ elyxer.py document.lyx document.html

selengkapnya:
http://elyxer.nongnu.org/
http://elyxer.nongnu.org/userguide.html

Bookmark and Share

Petisi: Hentikan Tradisi Kebijakan Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan

http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/10/petisi-hentikan-tradisi-kebijakan-penempatan-pegawai-bermasalah-di-perpustakaan/

Untuk kedua kalinya, citra perpustakaan sekolah diperburuk oleh kebijakan penempatan guru bermasalah di perpustakaan sekolah. Kasus terbaru di SMPN 26 Purworejo seperti yang diberitakan oleh Harian Suara Merdeka, 18 Maret 2012 dengan judul “Guru Pemukul Siswa Dibebastugaskan Mengajar”. Dalam berita tersebut Kepala Dinas P dan K Kabupaten Purworejo, menyatakan bahwa guru berinisial Ar yang melakukan penganiayaan terhadap siswa SMPN 26 Purworejo untuk sementara dibebastugaskan dari mengajar dan untuk sementara menjadi petugas perpustakaan. Tahun 2009, kasus yang sama terjadi di SMP Negeri 79 Jakarta, seperti yang dimuat di Koran Tempo pada tanggal 19 Januari 2009 dengan judul “Guru Penganiaya Siswa Dipindah Tugas ”.

Menyikapi kasus-kasus tersebut di atas, kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI) sebagai lembaga pengembangan kepustakawan sekolah Indonesia menyampaikan keberatan terhadap kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan karena telah memberi citra buruk bagi perpustakaan sekolah sebagai tempat penghukuman.

Kebijakan-kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan merupakan bentuk kurang pahamnya para pengambil kebijakan di instansi-instansi yang mengelola bidang pendidikan tentang fungsi perpustakaan sekolah serta standar perpustakaan sekolah sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 25 Tahun 2008. Kasus ini, selain memberi citra buruk terhadap perpustakaan sekolah juga merupakan pelecehan terhadap profesi pustakawan.

Kami dari berbagai asosiasi pustakawan, lembaga-lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan & Informasi, lembaga-lembaga Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus dari berbagai daerah di Indonesia serta pustakawan-pustakawan dari berbagai penjuru Nusantara bersama APISI berharap di masa mendatang kasus-kasus serupa tidak terjadi lagi di sekolah-sekolah lain serta di semua jenis perpustakaan di Indonesia.

Secara tegas kami menyatakan:

“Hentikan tradisi kebijakan penempatan pegawai bermasalah di perpustakaan!”

Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI)
Alamat Sekretariat APISI
Jl. Dahlia No. 355A Rt 007/15 Serua Ciputat 15414
Telepon: 021- 94326925; 021-818155374; Faks: 021-746 37 522
Email: kotaksurat@apisi.org
Website: http://apisi.org/

Solidaritas Pustakawan Tolak Penempatan Pegawai Bermasalah di Perpustakaan
Ahmad Subhan 081 227 1955 77
lempoxe@yahoo.com
http://www.facebook.com/groups/solidaritaspustakawanindonesia

Petisi ini didukung oleh:

1. AC Sungkana Hadi (Pustakawan Utama Universitas Cendrawasih).
2. Acep Muslim (Pustakawan AKATIGA Bandung).
3. Achmad Djunaedi (Pustakawan PUSTAKA, Bogor).
4. Ade Heri Wibawa (Pustakawan SDN 2 Klampok Banjarnegara).
5. Adi Prasetyawan (Pustakawan UPN Veteran Jatim).
6. Aditya Nugraha (Perpustakaan UK Petra Surabaya).
7. Ahmad Subhan (Pustakawan IRE Yogyakarta).
8. Ahmadul Fajri (Riau).
9. Akhmad Syaikhu (Pustakawan PUSTAKA Bogor).
10. Ali Minanto (Pustakawan PolGov UGM).
11. Amy Lee (Pustakawan SMAN 3 Metro-Lampung).
12. Andang Liestyarini (Ujungberung).
13. Andres Amrulloh, S.Sos. (Bogor)
14. Andya Nur Cahyono (Pustakawan Unindra).
15. Any Fauzianie (Bandung International School).
16. Arie Nugraha (Dosen IP&I UI).
17. Arief Budiman (Alumni IP&I UNPAD).
18. Arif Surachman (Pustakawan FEB UGM).
19. Aris Maulana (Mahasiswa IP&I UI).
20. Arman Kurniadi (Jakarta).
21. Arsidi Ahmad (Pustakawan Sekolah Teladan, Pengurus ATPUSI Yogyakarta).
22. Asbahul Pajri Taslim (Pustakawan Universitas Dehasen Bengkulu).
23. Asep Saeful Rohman (Dosen IP&I UNPAD).
24. Bagus Ramdan (Konsultan Perpustakaan, Bandung).
25. Bambang Murdianto (Ungaran).
26. Bambang Setianto (Bojonegoro).
27. Banu Susanto (Pustakawan UNIMED).
28. Basya Zia (SDIT Luqman Hakim Yogya, Pengurus ATPUSI Kota Yogya).
29. Bayu Setya Pambudi, A.Md. (Yogyakarta).
30. Bondhan Endriawan (Pustakawan Univ. Negeri Trunojoyo Madura).
31. Christina Retno (Pustakawan, Bekasi).
32. Christina Tulalessy (Jakarta).
33. Christine Sadeli (Pustakawan Global Prestasi School, Jakarta).
34. Daud Saputra (Depok).
35. Dewi Apriliani (Bandung).
36. Dewi Puspitasari (Pustakawan UNAIR).
37. Dhama Gustiar Baskoro (Pustakawan UPH).
38. Dicky Ermandara (Sumedang).
39. Didik Witono (Surabaya).
40. Dimas Rizky Prasetio (Librarian Ruang Depan Gallery S.14).
41. Dimas Wahyu Nugroho (Pusat Dokumentasi HAM UBAYA).
42. Dina Isyanti (Pustakawan, Jakarta).
43. Dindin Catur Nur Putrianti (INTI College Indonesia).
44. Djoko Prasetyo (Purwokerto).
45. Dwi Novita Ernaningsih (Pustakawan UM).
46. Elfian Sumendap (Perpustakaan STA Tiranus, Bandung).
47. Elisabeth Sondang (Associate Librarian - JIS).
48. Endang Ernawati (Library and Knowledge Center Bina Nusantara University).
49. Endang Fatmawati (Kepala Perpustakaan FEB UNDIP).
50. Endang Fitriyah (Surabaya).
51. Endang Gunarti (Surabaya).
52. Endhar Priyo Utomo (Semarang).
53. Erizt Putra Kelana (Alumni IP&I UIN Sunan Kalijaga).
54. Etin Sumiyati (Sekretariat Wakil Presiden RI).
55. Evalien Suryati (Salatiga).
56. Fahma Rianti (Pustakawan STEI SEBI Sawangan Depok).
57. Faishal Hidayatullah (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro).
58. Firman Edi (ATPUSI Riau).
59. Francisca Messakh (Sekolah Pelita Harapan Karawaci).
60. Galuh Paramita Swasti (Pustakawan UDINUS Semarang).
61. Gamma (Staff Library News TV ONE).
62. Gerri Mulyawandry (Labschool Kebayoran).
63. Halima Bustami (Pustakawan UNJ).
64. Hamid Mahmud Marrancang (Perpustakaan STAIN Parepare).
65. Hanna Latuputty (Pengurus Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia - APISI).
66. Hartanto (Sidoarjo).
67. Hastun Rifa’i (Wonogiri).
68. Hendriyanto (Kulonprogo).
69. Heni Feviasari (Pustakawan STEI Tazkia).
70. Heri Kurniawan (Pustakawan SMAN 1 Lendah Kulonprogo DIY).
71. Heriyanto (Pengajar Ilmu Perpustakaan di Semarang).
72. Herlina (UPT Perpustakaan IAIN Raden Fatah, Palembang).
73. Hertanto Eko, A.Ma.Pust (Pustakawan SD di Kab. Tegal).
74. Hijrah Fitriani (Pustakawan RSUP Fatmawati Jakarta).
75. Hilda Putong (Librarian, Head of Research Center Ssttintim Makassar).
76. I Gede Edy Purwaka (Staf Unit Capacity Development, Yayasan SATUNAMA Yogyakarta).
77. Ika Wulandari (Bandung).
78. Ikatan Alumni Ilmu Perpustakaan dan Informasi Sunan Kalijaga Yogyakarta.
79. Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII).
80. Imam Budi P (Binus Business School Librarian).
81. Imelda Nuralam Pakpahan (Pustakawan di Kementerian Kelautan dan Perikanan)
82. Imron Rosyadi (Pustakawan IAIN Walisongo Semarang).
83. Information Resource Center (IRC) Jakarta.
84. Irma Elvina (Perpustakaan IPB).
85. Irman Siswadi (Pustakawan UI).
86. Ishak Juarsa (Perpustakaan Sumatera Selatan).
87. Iskandar Said (Pustakawan Unhas Makassar).
88. Ismawati Setyaningsih (Pustakawan, Bekasi).
89. Iwan Prasetyo (Jakarta).
90. Iwan Tero (Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara).
91. Jajang Burhanudin (Pustakawan UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
92. Jazimatul Husna Arba’i (Pustakawan FTM TL UPN ” V” Yogyakarta ).
93. Joko Bangun Nugroho (Pustakawan SDN Kabuaran, Prb, Kbm).
94. Jumadi (Grobogan-Purwodadi).
95. Jurusan Ilmu Informasi & Perpustakaan Fikom UNPAD.
96. Kalarensi Naibaho (Pustakawan UI).
97. Kemala Widya Paramita (Jakarta).
98. Klub Perpustakaan Indonesia (KPI).
99. Kurnia Utami (Perpustakaan UMS).
100. Latifah Wahyuni (Pustakawan SMPN 7 Magelang).
101. Leilla Claudya (Surabaya).
102. Lenny Florida Sitanggang (Pustakawan Sekolah Medan).
103. Lenti Sitorus (Pustakawan Khusus – Jakarta).
104. Lesdi suryadi said,S.IP, (Pustakawan SMAN 9 Kota Tangerang Selatan).
105. Lilies Fardhiyah (Bogor).
106. Lis Setyowati (FT UNDIP).
107. Lukman Budiman (Bogor).
108. Lulu Lucyana (Jakarta).
109. Luthfianti Makarim (Pustakawan, Jakarta).
110. M. Harfano A (Pustakawan SMP/SMA Sutomo 1, Medan).
111. Mamok Suparmo Paulus (Yogyakarta).
112. Mariyah (Pustakawan UI).
113. Maryani Septiana (Pustakawan Poltek Batam).
114. Maryulisman (Pustakawan UIN Jakarta).
115. Mat Sjafii (Pustakawan Unair).
116. Melkion Donald (Pustakawan Baperpusip Prov. Jatim).
117. Minanuddin (Forum Perpustakaan Khusus).
118. Misbah Munir (Banjarmasin).
119. Mochamad Ariyo Faridh Zidni (Pustakawan Konsultan/Independen/ Jakarta-Bogor).
120. Moh Rif’an SIP (Pustakawan MAN 2 Madiun).
121. Mohamad Aries (Depok).
122. Mohammad Luthfil Hakim (Pustakawan Fak. Saintek UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
123. Muhammad Sholihin (Universitas Sebelas Maret).
124. Muhammad Tawwaf, S.IP.M.Si (Pustakawan UIN Suska Riau & Ketua PD IPI Riau).
125. Mujaini (Pustakawan Inspektorat Jenderal Kemenkeu).
126. Munawaroh (Perpustakaan STIE Perbanas Surabaya).
127. Murad Maulana (Pustakawan Bapusda Kab. Indramayu).
128. Muraro Bidami (Mahasiswa IP&I IAIN Raden Fatah Palembang).
129. Murtini Pendit (Pustakawan Senior).
130. Mustika Wati (Jakarta).
131. Musyawarah Kerja Pengelola Perpustakaan Sekolah (MKPPS) Kota Metro-Lampung.
132. Mutri Batul Aini ( Pustakawan Ditjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta).
133. Nasirullah Sitam (Alumni IP&I UIN Sunan Kalijaga).
134. Neni Trisnawati (Bogor).
135. Nina Purwani Istiana (Pustakawan UGM).
136. Nurma Baity Abidin, S.Hum (Perpustakaan SMKN 1 Tengaran, Kab.Semarang).
137. Nurul Hayati (JIP UIN Jakarta).
138. Ola Triana (Mahasiswa Ilmu Informasi & Perpustakaan Fikom Unpad).
139. Perpustakaan American Corners Indonesia.
140. Perpustakaan Antropologi Padjadjaran.
141. Perpustakaan Dbuku (Surabaya).
142. Perpustakaan UNIKOM (Bandung).
143. Prafita Imadianti (Mahasiswa Magister Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia).
144. Prakoso Bambang (Surabaya).
145. Prita Hw (Alumni IIP Unair, Founder Jaringan Insan Baca, Penulis).
146. Puti Asmarani (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
147. Quraisy Mathar (Dosen Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar).
148. Rahmad Adhi Tama (Depok).
149. Rahmat Saputra (Depok).
150. Ratna Kriswijayanti (Perpusda Kab. Jepara).
151. Reni Siti Zachrani (Pustakawan Balitnak, Bogor).
152. Resty Jayanti Fakhlina (Dosen Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi IAIN Imam Bonjol Padang).
153. Retno Vian Rosika (Pustakawan SMP 8, Kota Batu).
154. Riana Mardina (Pustakawan UKRIDA).
155. Rika Mustikawati, S.Sos (Sukabumi).
156. Rini Yastuti (Semarang).
157. Rosita T (Perpustakaan HITS Tangerang).
158. Rotmianto Mohamad (Pemkab Magetan).
159. Salmubi (Perpustakaan B.J. Habibe Politeknik Negeri Ujung Pandang, Makassar).
160. Samuel Tri Santoso (Pustakawan SMA WARGA Surakarta).
161. Sasadara Manjer Kawuryan (Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang).
162. Sekar Dinihari K. Wardhana (Ichthus School Jakarta South).
163. Shanti Maulani (Mahasiswa II&P Fikom Unpad).
164. Siti Nurningsih (Jakarta).
165. Sri Ati Suwanto (Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UNDIP).
166. Sri Sulastri Prabowo (Bogor).
167. Sri Wulan (Pustakawan Biologi LIPI).
168. Sugeng Wahyu Ariyadi (Pustakawan Baperpusip Prov. Jatim).
169. Sulistiorini (Pustakawan Unair).
170. Sulistyo Basuki (Profesor Ilmu Perpustakaan & Informasi).
171. Supriyadi (Pustakawan STKIP MPL LAMPUNG).
172. Sushanty Chandradewi (Librarian The Japan Foundation, Jakarta).
173. Suzanna Katharina Mamahit (Universitas Ciputra Library).
174. Tan Kayen (Kedungwuni).
175. Tatang Pamungkas (Surabaya).
176. Taufik Hidayah (Pustakawan SMP Negeri 2 Maos,Cilacap).
177. Tri Hardiningtyas (Pustakawan UNS).
178. Trini Haryanti (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia).
179. Umi Proboyekti (FPPTI DIY).
180. Verina Maria Oktaviane (Pustakawan Majalah SWA).
181. Vivit Wardah Rufaidah (PUSTAKA BOGOR).
182. Wahid Nashihuddin (PDII LIPI).
183. Wasli Andril Fajar (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UNAIR).
184. Wawan Darmawan (Mahasiswa Ilmu Informasi & Perpustakaan UNPAD).
185. Welmin Suharto (Pustakawan Universitas Brawijaya).
186. Wibowo Purnomohadi (Pendiri Grup Republik Pustakawan).
187. Wiji Lestari (Mahasiswi D3 Perpustakaan UNS).
188. Winda Hanifa (Mahasiswa IP&I).
189. Wuri Indri Pramesti (Sumedang).
190. Yanti Kustanti, A.Md., S.Sos. (Pustakawan SMA Negeri 3 Sidoarjo - Jawa Timur).
191. Yanto Dhiya’uddin (Mahasiswa S2 IP&I UIN Sunan Kalijaga).
192. Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI).
193. Yoseva Silaen (Pustakawan Khusus).
194. Yournetty (Pustakawan Perpustakaan Umum LIA).
195. Yuli Asmini (Pustakawan dan Educator Komnas HAM Indonesia).
196. Yulianti Fajar Wulandari (Pustakawan Kementerian Kehutanan RI).
197. Yulianti Sodikin (Pustakawan Fikom Unpad).
198. Yusri Fahmi (Pustakawan STAIN Padangsidimpuan Sumatera Utara).
199. Yustin Ningsih (Jombang).
200. Zulianto Adi (Pustakawan Sekolah Alam Cikeas).

Bookmark and Share

Diskusi tentang GPL/Opensource

Yang saya posting dibawah ini, adalah jawaban atas diskusi yang ada pada sebuah wall Facebook. Wall tersebut adalah wall aplikasi perpustakaan. Aplikasi tersebut adalah aplikasi yang dijual dan tidak dilisensikan dibawah GPL v.3. Padahal ada pengakuan di wall, bahwa aplikasi tersebut menggunakan 30% code SLiMS.
Yang saya pahami, jika menggunakan GPL maka turunan harus GPL.

Sayangnya, pengakuan 30% tersebut sekarang telah dihapus dan tidak ada dokumentasinya. Maka untuk lebih baiknya, saya tidak menuliskan nama aplikasi tersebut.

Berikut adalah jawaban saya terkait diskusi mengenai GPL di wall tersebut yang sekarang telah dihapus, untungnya saya masih ada dokumentasinya.

Mohon maaf, bisa jadi apa yang saya pahami tentang GPL, khususnya v.3 belum pas dan masih ada kesalahan. Mohon koreksinya:

——————–

1. Gratis tapi tidak gratis -> saya kira jelas, bahwa gratis bukan identifikasi dari OS
2. Kita permudah saja diskusi ini dengan cerita ini:
Ada orang yang membuat program, kemudian dia ingin semua orang dapat mereview programnya, memodifikasi dan menyebarkan kembali. Maka dia memberikan lisensi GPL v.3. Dan dia ingin segala turunan dari program itu juga berlisensi GPL.
Nah suatu ketika ada yang menggunakan program dia, tepatnya sourcecodenya untuk dikembangkan, baik sebagian maupun seluruhnya. Setelah jadi dia jual, tapi ternyata setelah dijual dia mengurangi hak orang lain terkait kebebasan yang sebagaimana yang diinginkan si pembuat pertama sesuai lisensi GPL.
Bisakah si pemodifikasi ini disebut sebagai melanggar hak/lisensi? Karena setelah sampai pada si pemodifikasi, idealisme pembuat pertama menjadi terhambat.

3. Jika seserorang mengembangkan program berlisensi GPL, maka dia harus ikut aturan GPL. Jika tidak, dalam arti dia akan memotong hak kebebasan pada lisensi ini makas sebaiknya dia tidak menggunakan program berlisensi GPL. Lebih baik dia membuat dari awal. Di sini perlu jelinya seorang programmer menggunakan kode yang tersebar diinternet, tahu apa lisensinya dan tahu apa konsekuensi dari lisensi itu. Ketahui dulu lisensinya, keinginan pembuatnya dan hormati lisensi itu beserta segenap konsekuensinya

4. Bagaimana jika seorang programmer menemukan pada program non-GPLnya (proprietary) ditemukan source-code berlisesnsi GPL? maka ada beberapa pilihan.
a. Dia harus menghilangkan semua code berlisensi GPL itu
b. Dia harus memberikan lisensi GPL keseluruhan program
c. Dia harus negosiasi pada pemilik source-code (pencipta pertama) yang dia pake, agar mendapat ijin menggunakan dalam bentuk lisensi yang berbeda.

5. Point 4 di atas, jelas menerangkan etika dalam GPL. Jika memotong lisensi GPL maka dia harus minta ijin. Kan code itu bukan dia yang bikin?

6. Bagaimana jika menyebarkan hasil modifikasi, termasuk theme yang katanya berhak cipta sesuai UU ITE padahal tidak diijinkan oleh pemodifikasi?
Sebelum sampai pada kasus ini, sebenarnya si pembuat/pemodif sudah melanggar GPL terlebih dahulu. Jadi sebelum ke UU yang lain, GPL sudah dilanggar.
Pengubahan lisensi/pengurangan hak pada lisensi GPL = pelanggaran penyebaran theme.

7. GPL aturan dasarnya = proprietary. Minta ijinlah kepada pemilik jika ingin berbuat sesuatu yang lain daripada yang disebutkan dalam lisensi. Dalam hak cipta juga demikian, “dilarang…… tanpa ijin dari penulis/pemegang lisensi”. jadi kalau ingin berbuat sesuatu yang berbeda dengan lisensi GPL terhadap code yang berlisensi GPL ya harus ijin ke pemilik lisensi atau membuat dari awal, atau menggunakan lisensi opensource yang lebih longgar. Kalau tidak ijin=penjiplakan.
Dalam hukum ada yang disebut “fair use”. Dalam UU Hak cipta ini ada pada pasal 15, yaitu sebuah produk digunakan dalam pendidikan atau penelitian. Nah bagaimana dengan produk berlisesnsi GPL? Justru produk GPL sangat mendukung pendidikan dan penelitian untuk kemanfaatan dan juga penyebaran ilmu pengetahuan.

8. GPL harus disandingkan ITE. Maaf saya awam hukum, tapi menurut kajian hukum terkait opensource dan hukum di indonesia, tak ada yang bertentangan dan justru sesuai dengan hak cipta. Hak cipta GPL ada pada si pemilik lisensi/pembuat pertama = hak cipta secara konvensional. Artinya jika keinginan pencipta pertama program GPL terkait ciptaannya dilanggar itu sama dengan ketika sebuah produk proprietary dicopy dan disebarkan tanpa ijin pemegang lisensi.

9. Coba kita kembalikan ke filsafat dasar Gerakan FOSS. Kenapa FOSS (khususnya GPL) menyediakan kemerdekaan untuk melihat sourcecode, memodif, menyebarkan dan segenap turunannya harus berlisensi GPL?
Karena ini akan mendukung percepatan penyebaran pengetahuan. Ilmu pengetahuan digunakan untuk kemaslahatan ummat manusia sehingga semua berhak untuk melihat code, memodif dan menyebarkan kembali. Sourcecode yang berlisesnsi GPL diharapkan dapat membuat semua orang dapat mempelajari dan akhirnya pengetahuan dapat tertransfer dari si pembuat code ke orang lain, begitu seterusnya.
Hal ini sudah dapat dirasakan hasilnya. Berapa banyak orang yang akhirnya dapat melakukan remastering Linux, berapa orang yang akhirnya dapat mempelajari programming bahkan tanpa sekolah programming.

Ada buku menarik terkait ini “Lisensi Copyleft dan Perlindungan Opensource software di indonesia” penulisnya Ika Riswanti Putranti. Penerbit Gallery Ilmu 2010.

————-

Berikutnya juga postingan jawaban saya pada sebuah diskusi di group SLiMS:

keterangan:
>>=saya
>=Fulan

>>Saya merasa, selama ini ketika kita membeli sebuah aplikasi, kebanyakan bukan membeli, tapi menyewa.

>Dilema juga menggunakan atau memodifikasi opensource GPL v3 tsb, mengapa? di satu sisi katakanlah”tertolong” karena opensource - codenya terbuka jadi para programmer bisa belajar tentang pemrograman,akan tetapi tidak mempunyai lisensy - lisency selalu dibawah GPL.

>> Itulah yang disebut sebagai konsekuensi mas. GPL, khususnya v.3 saya sering menyebut sebagai bentuk aturan gotong royong di era digital. Gotong royong, bukan berorientai uang, tapi penghargaan pada orang yang ikut gotong royong dan bersifat pengembangan komunitas/kebersamaan. Sedikit unsur “uang” dalam proses gotong royong.

>programmer indonesia ingin bisa menciptakan suatu karya tersendiri dengan munculnya open source ini bukan sebatas pakai, ganti template tanpa ada perkembangan lebih lanjut.

>> dan setahu saya sudah ada mas? KOHA itu opensource, SLiMS opensource, GDL juga, dan kesemuanya dipakai tidak hanya di negara pengembang, tapi sudah lintas negara. SLiMS dan GDL produk indonesia, sekedar menyebut dua diantara banyak produk.
Gerakan OS sendiri mendorong orang untuk mengembangkan lebih lanjut kok mas. hanya saja, kondisi perkomunitas sepertinya berpengaruh pada cepat-lambatnya perkembangan ini. SLiMS yang dilempar ke komunitas pustakawan, akan berbeda dengan kernel linux yang dilempar ke programmer.

>dengan adanya belajar ini diharapkan “ini loh buatan indonesia” bukan atau tergantung dari produk luar terus, programmer indonesia saat ini mulai maju dan giat sekali dan kebanyakan masuk ke jajaran team Microsoft dan Borland - Delphi, kenapa karena Hasil karya nya ada dan itu diakui, akan tetapi sayangnya close source., dan sedikit untuk open source karena “nasib dan hasil karyanya tidak jelas/ tidak diakui” .. inilah dunia open source tsb, dan banyak lisensy selain GPL, yg bagus lisency LGPL karena bersahabat.

>>Nah, lisensi akhirnya adalah sebuah pilihan dan bagaimana kita dapat memilih sesuai dengan kebutuhan. GPL juga bersahabat, untuk yang dapat bersahabat dengan GPL. LGPL juga demikian. Relasi antara manusia dan teknologi itu berdasar kompromi dan berbeda antara satu orang dan lainnya. Masuk Microsoft juga bagus, tapi yang perlu diingat microsoft juga punya kepentingan.
“nasib dan hasil karyanya tidak jelas/tidak diakui” Maksudnya?

>pertanyaannya :
>1. sebagai generasi muda IT Indonesia mana yang sebaiknya dipilih - Open source atau Close source ?
>> berbeda antara satu dan lainnya mas. Sebagai orang awam TI saya pilih opensource. OS lebih demokratis dan kesannya egaliter. Saya sering menyebut OS sebagai bentuk gotong royong era digital. Lebih baiknya coba kita pelajari awal kelahiran gerakan Opensource ini. Budaya memberi “gift culture” yang saya ingat, adalah dasar kelahiran gerakan Free/Opensource. Itu kompromi saya saat ini.

>2. Sekarang melalui team Bizpark Microsoft sedang dibinanya beberapa programmer2 indonesia (pengembang) selama dua tahun untuk membuat produk atau program buatan sendiri (made in Indonesia) ?

>>bagus. Tapi ingat, teknologi apapun bentuknya selalu punya “kepentingan”, bahkan Opensource sebagai sebuah gerakan juga punya kepentingan. Saya sendiri mencoba mencari kepentingan apa dibalik itu. Linux, windows, slims, juga punya kepentingan.

>3. Banyak programmer indonesia yg kerja keluar negeri karena di luar negeri diakui, akan tetapi di dalam negeri tidak diakui, dll.ini realita di lapangan.
>> hubungan dengan Opensource?

>4. apakah tidak ingin Indonesia membuat produk sendiri ?
>>Pengen, dan saat ini sudah ada.

>5. Opensource ini bukan buatan rakyat indonesia, akan tetapi hanya modifikasi, kerja keras tapi tetap saja di bwh lisensy GPL, mau sampai kapan terus begini?

>> coba pelajari filosofi Opensource dulu mas. Maksud dari “bukan buatan rakyat indonesia?” bisa diberikan contoh nyata?
Kalau misal GPL dianggap tidk cocok untuk seorang programmer, maka 1) jika dia membuat aplikasi jangan melisensikan dibawah GPL 2) jika dia ingin mengembangkan aplikasi OS, jangan mengembangkan dari yang berlisensi GPL.

Mungkin mas Fulan dapat menjelaskan filosofi Close source/proprietary ?
Menurut mas Fulan, apa kekurangan dari lisensi GPL v.3/opensurce dengan close source?
Mas Fulan sendiri memilih yang mana?

Bookmark and Share

Surat cinta buat mamak (di syurga pastinya) -10 Januari 2011-

bismillah…..

Mak, pa kabarmu di sana?
bolehkan aku mengirim surat ini untukmu,
ku harap Allah juga ridho
amieeen
mak, kini ku tahu
betapa hebatnya engkau
betapa tak hebat coba?
Jika aku melihat suami dan adikku hebat,
pastiah mereka dilahirkan dari orang yg tak hanya sekedar hebat
pasti super hebat
dan itu engkau mak
mak,pastinya engkau (di syurga) bangga kan?
Bagaimana tak banga coba jika aku yg di sini (dunia) saja bangga
lihatlah mak, putramu tumbuh jadi lelaki yg membanggakan
lihat pula mak putrimu, dia juga tumbuh jadi pribadi yg menyenangkan
dari mereka mak, aku belajar banyak
ikhlas, syukur, sabar, kerja keras……,(dan masih banyak mak)
mamak, dulu sekali ketika Allah mengajakmu “pergi”
aku sempat “mengadu” bahkan mungkin juga “marah”
kataku “mengapa Allah kau ajak pergi mamak?” padahal kan aku belum sempat melihatnya ?”
Allah tak menjawab mak saat itu
tapi sekarang mak, Allah menjawabku
aku “melihatmu” di suami dan adikku
mak, aku juga pernah pula “berteriak” pada NYA
kenapa mamak Kau taruh di syurga sekarang ya Allah?
Dan aku tahu mak,
semua karena DIA dan keiklhasanmu (untuk pergi) hanya
karena ingin melihat suami dan adikku menjadi soleh, solehah
bukankah pahalamu yang tak terputus doa dari anak yang soleh dan solehah mak?
Itulah kenapa Allah menjemputmu awal mak
meski mak, semua terasa sakittttttttttt
mamak, aku memang buka siapa-siapamu
melihatmu pun Allah tak memberi waktu
dan aku tak tahu mak, apa doaku slama ini sampai
karena darahmu tak ada padaku
semoga aku dapat pula menjaring pahala menajdikan suami dan adikku bertambah soleh
mak, kau tahu
aku juga pernah bermimpi bertemu engkau
tapi aku lupa kau bicara apa padaku
(kecewa)
aku ingin bercerita banyak mak
tapi mungkin kali ini cukup sampai di sini dulu ya
satu hari nanti entah aku, suami atau adikku pasti akan melanjutkan surat ini
jangan bosan tunggu kami ya mak di syurga
mak aku ingin berdoa untukmu bersama suami dan adikku, dengarkan ya mak

ya Robbi.
Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
Robbi auzi’ni an-asykuro ni’matakallati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala sholihan tardhohu wa adkhilni bi rohmatika fi ‘ibadikash sholihin”, “Ya Robb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”, (Q.S. 27 : 19).

amieeeen

maka ya Robbi, saksikanlah doa ini
buatlah mengguncang kehidpuan ‘arsyiMu

ditulis oleh Fitri Saudah

Bookmark and Share

Degex, linux distribution with LIS apps

Sumber Open-Lib

Pada artikel terdahulu saya pernah berjanji (kepada diri sendiri) untuk melanjutkan proyek puppylib dengan menyertakan free/libre and opensource software (floss) lebih banyak dan lebih mutakhir di bidang perpustakaan dan informasi. Tetapi karena satu dan lain hal akhirnya diputuskan untuk membuat proyek baru yang serupa tapi tak sama. Puppylib sendiri merupakan distro linux dengan beberapa aplikasi perpustakaan hasil remastering dari Puppylinux 4.20. Saat tulisan ini dibuat Puppylinux sudah mencapai release 5 (codename lupu alias “lucid puppy” karena dibangun menggunakan paket binari Ubuntu 10.04 (Lucid lynx))

Jadilah saya memulai proyek baru dengan pindah ke basis Ubuntu, distribusi linux yang memang dipakai sehari-hari di kantor. Hal lain juga karena ubuntu adalah distro besar dalam arti dukungan korporat dan komunitasnya sehingga tidak kesulitan menemukan jawaban apabila ada masalah. Adapun demikian saya tetap merekomendasikan Puppylinux untuk komputer lama karena tidak membutuhkan resource yang tinggi. Puppy juga cocok untuk live-cd internet cafe atau belajar remastering linux karena sudah tersedia utility remastering.

Degex, linux distribution with LIS apps

What’s in a name?


Nama “degex” dipilih karena distro ini didedikasikan untuk “dgek”. Sesederhana itu. Saya akan sangat bersyukur apabila degex bisa juga bermanfaat untuk orang lain, khususnya pustakawan atau mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan dan informasi yang tertarik dengan berbagai macam software di bidang perpustakaan. Degex adalah remastering dari Ubuntu 10.04 LTS (lucid lynx) dengan ukuran 1.8GB. Untuk itu resiko yang ada adalah dibutuhkan resource/spesifikasi komputer yang cukup bagus. Di rekomendasikan minimal RAM 512 MB memory dan kartu grafis support 3D untuk menjalankan compiz.

What’s within?

Aplikasi yang ada di degex ini merupakan aplikasi yang saya pikir penting untuk diketahui dan dipelajari oleh seorang pustakawan atau mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan dan informasi. Beberapa diantaranya merupakan aplikasi yang jarang digunakan bahkan didengar di sini, namun begitu populer di luar negeri seperti marcedit, mendeley atau bibexcel. Ada juga satu aplikasi sistem perpustakaan yang begitu terkenal sehingga banyak digunakan oleh khalayak pustakawan di Indonesia, yaitu Senayan Library Management System (SliMS). Bahkan hadirnya degex juga untuk mempromosikan SliMS ke dunia luar sebagai salah satu produk opensource kebanggaan anak bangsa. Pastinya anda akan mendengar alunan lagu “Indonesia Raya” ketika degex pertama kali beraksi :D

Tentu saja tidak semua software yang ada di degex dibutuhkan. Sebuah atau beberapa software membutuhkan software lainnya agar berfungsi secara optimal seperti bibexcel atau winisis dengan pajek untuk membuat mapping. Yang lain berupa aplikasi mandiri atau wujud sebagai extension atau plugins yang terintegrasi seperti openoffice dengan mendeley, zotero dan mediawiki.

Dan yang tidak kalah penting Degex merupakan distro linux dengan multimedia-ready yang bergaya Mac (thanks to cairo-dock). Ini artinya semua codec yang dibutuhkan untuk memainkan file multimedia telah terinstall dengan baik. Ayoo maaanngggg….

Di bawah ini, saya membuat menu berdasarkan 6 katerogi kategori aplikasi yang secara subjektif mewakili kebutuhan pustakawan :

  1. bibliometric and mapping
      bibexcel
      network workbench (nwb) tool
      pajek
      publish or perish (PoP)
      txt2pajek
      VOSViewer
  2. data mining
      weka
      WinIDAMS
  3. library system
      CDS/ISIS family: isis2xml, isismarc, winisis, xml2isis
      oclc dewey cutter program
      senayan library management system (slims)
      mediawiki
      resourcespace (digital asset management)
  4. metadata tools
      marcedit
      marcview
  5. mindmapping
      freemind
      vue: visual understanding environment
      vym: view your mind
      xmind
  6. reference management
      bibus
      I, Librarian
      JabRef
      Pybliographic
      referencer
  7. thesaurus tools
      TheW
      ThManager
      XRefHTJ
network workbench tool (nwb)
vosviewer-cluster
isismarc-isis2xml
slims - multimedia player
marcedit
marcview
bibexcel
thmanager
stardict - kamus dan thesaurus
publish or perish
slims - z3950 protocol
menu

Diluar pembagian kategori diatas, ada pengurangan dan penambahan aplikasi. Sebagai contoh Stardict (memuat oxford advanced learner’s dictionary, kamus besar bahasa indonesia, tesaurus bahasa indonesia dan beberapa bahasa asing), shutter, chmsee (chm reader), guake terminal, shotwell photo manager menggantikan f-spot, tesseractGUI (the best scanner software), drivel journal editor (blogging client), gwibber, liferea feed reader, fbreader (ebook reader), pdf editor, cheese, gpodder (podcasting tool), skype, pino, ekiga, gtk-recordmydesktoop, bleachbit, poedit (translations editor), Xaos (fractal zoomer), etc.

Saya sudah menginstall banyak plugins untuk firefox yang dirasa penting untuk dimiliki dan digunakan oleh pustakawan dalam kegiatan sehari-hari. Untuk menyebut beberapa diantaranya : zotero, SimilarWeb, mobile barcoder, QR code tag, screengrab, scribefire, fireftp, shareholic, twitterbar, web developer, server spy, dan masih banyak lagi yang lainnya. Menu bookmarks firefox dipenuhi oleh link blog para pustakawan yang menarik untuk disimak dan online tools yang sangat dibutuhkan.

Degex merupakan live-dvd linux karena ukurannya lumayan gemuk yaitu 1,8 GB. Harap maklum. Bagi pihak yang tertarik mencoba ikuti link download berikut ini. Bila ada yang berminat untuk copy secara offline dipersilakan menghubungi saya di nomor ini 081318024601 atau email di cyberariani@gmail.com. Untuk menghindari kesalahpahaman, perlu dikatakan disini bahwa degex adalah hasil remastering dari Ubuntu 10.04 yang memuat banyak aplikasi opensource dan freeware. Oleh karena itu degex juga produk free/libre and opensource sofware (floss) dan dibebaskan bagi siapapun untuk copy tanpa perlu biaya apapun. Yang perlu dipersiapkan hanyalah DVD kosong dan saya akan membakarnya untuk anda.

Terimakasih.

http://vlado.fmf.uni-lj.si/pub/networks/pajek/
|

http://vlado.fmf.uni-lj.si/pub/networks/pajek/

Bookmark and Share

Ibra Foss ke SLiMS, + openbiblio dan siprus to SLiMS

Sebagaimana diketahui, SLiMS memiliki fitur eksport dan import data. Dimana memungkinkan kita membuat sebuah database dengan format csv seperti di SLiMS dan mengimportnya.

Atau mengambil database tertentu untuk kemudian memformat sesuai csv SLiMS dan mengimportnya ke SLiMS.

Pada postingan kali ini, saya akan memberikan sebuah tips untuk mengeksport database IBRA FOSS agar dapat dimodifikasi dan dimigrasikan ke databas SLiMS.

Database IBRA yang saya jadikan rujukan adalah IBRA FOSS yang terdapat di http://mitraperpustakaan.com
Dalam database ibrav3_opensource terdapat beberapa tabel, yaitu:

* abstraksi
* buku
* conifos
* conuser
* digital
* digital_abstraksi
* inventaris
* menu
* statistik
* user

Dalam hal ini yang akan kita migrasikan hanya dari tabel buku, yang memuat data bibliografi koleksi, dan tabel inventaris yang memuat data item buku.

Pertama:
Saya asumsikan yang mencoba memiliki database IBRA. Download file export_ibra.php dan submenu.php di SINI dan copikan di /admin/modules/bibliography/

Kedua:
buat duplikasi sysconfig.inc.php di Senayan anda, caranya klik file tersebut dan copy-paste. File baru hasil copian berinama, misalnya: sysibra.inc.php

Ketiga:
edit file sysibra.inc.php, cari konfigurasi database dan isikan sesuai database ibra anda, misalnya:

define(’DB_HOST’, ‘localhost’);
define(’DB_PORT’, ‘3306′);
define(’DB_NAME’, ‘databaseibra’);
define(’DB_USERNAME’, ‘root’);
define(’DB_PASSWORD’, ‘admin’);

Ingat, konfigurasi ini ada dalam file sysibra.inc.php, bukan di sysconfig.inc.php.

Keempat:
Buka file export_ibra.php yang tadi anda download, yang sudah ada kopikan di
/admin/modules/bibliography/

Cari baris 25 yang berisi :
require ‘../../../sysconfig.inc.php’;
Ubah menjadi:
require ‘../../../sysibra.inc.php’;

Dengan demikian maka export_ibra.php akan membaca database dari sysibra.inc.php yaitu database ibra anda sesuai langkah ketiga.

Kelima:
Buka Senayan anda, masuk ke halaman administrasi, masuk ke modul bibliografi, maka seharusnya anda menemukan tampilan ini:


Keenam:
Lakukan proses eksport, maka anda akan mendapatkan database csv dengan format sebagai berikut:

“Perpustakaan kita”,”2nd”,”isbn”,”Bentang Budaya”,”2010″,”ii; 89 hlm.; ilus “,”700 Puj p”,”Ind”,”Yogyakarta”,”perpustakaan”,”",”<123><345>“,”Pengarang”,”subyek”

Nah, setelah itu anda dapat mengolahnya dengan Openoffice Calc atau Excell, sesuai csvnya SLiMS dan mengimportnya ke SLiMS lewat Modul Bibliography.

Bagaimana dengan jenis database lainnya (openbiblio, phpmylibrary, atau database ibra anda tidak sama dengan contoh di atas), silakan mencoba dengan melakukan modifikasi di export_ibra.php pasti bisa.

Selamat mencoba.

tambahan 12/1/2012. Script migrasi dari OB, Siprus, Ibra ke SLiMS download di sini

Bookmark and Share
  • StatPress

    Visits today: 14
  • Status Alat Komunikasi


    Email: tamanjiwa@gmail.com
    FB: Facebook
  • Postingan Terakhir

  • Komentar Terakhir

  • Uluk salam


    ShoutMix chat widget
  • Awan Tag

  • RSS JogjaLib.Net

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • Kategori

  • Arsip Tulisan

  • RSS Mustoko

  • Admin

  • Plurk-ku