|| purwoko.staff.ugm.ac.id ||

sesungguhnya ada hikmah di sekitar kita, untuk menjadi arif dan bijaksana
Random Image

Seorang Pustakawan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. Berjuang keras untuk mendapatkan kearifan. Bukan seorang yang luar biasa, hanya biasa saja...


Install YAZ di Ubuntu Karmic Koala

Senayan Library Automation menggunakan YAZ, sebagai bagian dari fitur Z3950. Singkatnya untuk dapat mengaktifkan fitur Z3950, library YAZ harus terinstall.

Berikut cara instalasi YAZ pada Ubuntu Karmic Koala. Untuk Ubuntu Hardy dan Jaunty tidak jauh berbeda.

Pada Karmic Koala, YAZ sudah ada pada paket, sehingga lebih memudahkan dalam proses instalasinya.

1. Buka Synaptic.
2. Cari YAZ

3. Pilih yaz, libyaz3, libyaz3-dev dan libnet-z3950-zoom-perl untuk diinstall

4. Klik Apply

Setelah semuanya selesai, masuk ke konsole dan lakukan perintah

sudo pecl install yaz

Terakhir edit php.ini (default ada di /etc/php5/apache2/php.ini) dan tambahkan

extension=yaz.so

Kemudian cek, apakah YAZ sudah terinstall dimesin anda dengan mengecek pada paket php.

Jika sudah, maka anda bisa mengecek pada Senayan anda. Masuk Admin, Klik Bibliografi kemudian klik Z3950 service. Jika muncul tampilan seperti di bawah ini, berarti beresss.

Untuk menjalan fitur z3950, port 7090 harus terbuka.

Selamat mencoba.

Bookmark and Share

Refleksi Ngo-Opensource

Saya seorang pustakawan. Belajar komputer, bagi saya gampang-gampang susah. Namun melihat kenyataan bahwa tidak semua orang yg mahir komputer, mahir pemrograman adalah lulusan dari jurusan komputer atau informatika, menjadikan semangat tersendiri. Sampai saya berfikir, bahwa “teknologi informasi” itu bukan masalah pendidikan, tapi masalah hobby.

Pertama kenal opensource pada tahun 2000-an di UAD–> ikut kursus jaringan berbasis Windows dan Linux. Setelah itu, pulang langsung sewa Fedora Core 2 kemudian saya install, tapi kaget kok gak mau muter .mp3 pake xmms. AKhirnya ganti Suse 9, dan berganti-ganti dengan fedora dan Opensuse, sampai akhirnya hardisk saya hancur.

Setelah punya komputer baru, tepatnya laptop Lenovo G400, sejak maret 2009 sampai sekarang saya menggunakan Ubuntu.

Sejak saat itu, saya sebisa mungkin menggunakan aplikasi Opensource. Memang berat, apalagi jika dihadapkan pada pekerjaan yang (dipahami) hanya bisa dilakukan di atas Windows.

Saat ini, di tempat kerja, dari 6 komputer tinggal satu yang tidak pake Linux. Ini semata-mata karena ada kompatibilitas data sirkulasi perpustakaan pada perangkat lunak lama.

Kejadian yang memaksa saya menggunakan OS non-Opensource adalah ketika diminta membuat cd proceeding interaktif berisi file2 .pdf. Saya mesti mengindeks dan membuat navigasi antar file .pdf.

Selain itu, saya selalu berusaha menggunakan aplikasi Opensource. Sepertinya, jika kita berusaha mencari pasti akan menemukan. Misalnya ketika saya mau menggabung file .pdf, dulu pake PDF Maker. Nah setelah “bertanya” di Google ternyata saya menemukan UnePDF, kemampuan menggabung .pdf cukup mudah dan sederhana.

Pengalaman lain adalah ketika hendak mengubah file .DAT ke .flv, atau .ogv ke .flv. Akhirnya saya menemukan FFMPEG. Baru saja, saya hendak membuat video turorial. Setelah mencari ternyata ketemu dengan RECORDMYDESKTOP, yang di paket Ubuntu sudah tersedia, tinggal

sudo apt-get install recordmydesktop gtk-recordmydesktop

Untuk pengetikan, LyX sangat bisa diandalkan. Dengan hasil yang bagus dan proses pengetikan yang mudah dan tentunya ringan. Konsepnya tidak WYSIWYG, namun WYMIWYG (What You Mean is What You Get). Aplikasi perpustakaan, tentunya sampai saat ini dipercayakan kepada Senayan.

Bookmark and Share

SOCIAL INFORMATICS

Sumber: http://rkcsi.indiana.edu/archive/SI/si2001.html

Apakah Informatika Sosial itu?

Informatika Sosial (IS) adalah studi yang sistematik dan interdisipliner pada disain, penggunaan dan konsekuensi dari Teknologi Informasi, yang ambil bagian pada interaksi dengan institusi dan konteks budayanya. Sehingga, ini merupakan studi aspek sosial dari komputer, telekomunikasi dan teknologi yang berhubungan, serta menguji isu-isu, misalnya bagaimana TI membentuk hubungan antara organisasi dan aspek sosialnya, bagaimana gerakan sosial mempengaruhi penggunaan dan disain TI. Sebagai contoh, peneliti IS tertarik pada pertanyaan mengenai akibat pengembangan TI di masa depan. Bagaimanapun, tidak seperti gaung spekulasi pada umumnya, strategi peneliti IS biasanya berdasar pada data empirik. Peneliti SI menggunakan data untuk menganalisis keadaan saat ini dan yang baru saja terjadi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bagaimana perubahan sosial itu dimungkinkan, yang masuk akal dan dimungkikan pada masa akan datang.

Istilah TI biasanya merujuk pada berbagai aplikasi yang luas, misal email, pengolah kata, program pengubah video, perambah jajaring, sampai pada teknologi yang mendukung berbagai aplikasi yang berbeda, misal jaringan fober-optik. Pada tataran individu, penggunaan TI membutuhkan penggunaan seperangkat aplikasi TI yang spesifik, misalnya datbase atau internet. Di Amerika Utara, istilah TI sering digunakan agak tidak tepat, untuk merujuk pada aplikasi khusus atau teknologi dasar yang luas.

Salah satu konsep kunci dari IS adalah bahwa TI tidak didisain atau digunakan pada aspek sosial dan teknologi yang terpisah. Dari sudut pandang ini, kontek sosial dari TI mempengaruhi pengembangan, penggunaan dan akibatnya. Akibat, dapat terjadi dengan tidak langsung dan terlihat pada hitungan periode, tahun atau dekade, bukan pada hitungan bulan.

Dari perspektif SI, aplikasi TI dapat di lihat sebagai “jaringan sosio teknologi”, yang mana sistem terdiri dari berbagai elemen berbeda, seperti perangkat keras, perangkat lunak, kontrak resmi serta orang dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan elemen sistem yang lain.

Dari perspektif non-IS, pada penggunaan dan efek dari TI terpusat hampir semata-mata pada katakteristik teknis (misal: fitur pemroses informasi pada komputer), dan posit specific effects due to those features.

Posisi ini disebut dengan detirminisme teknologi. Perspektif ini memandang banyak elemen penting, misalnya kontek sosial dan organisasional daro teknologi dan manusia yang menggunakannya. Beberapa perspektif juga membentuk asumsi yang keliru, isalnya asumsi bahwa aplikasi TI punya arti yang sama untuk semua yang menggunakannya dan akan mempunyai akibat yang sama untuk semua.

Pada area ini, misalnya, banyak orang yang antusias pada kemungkinan penggunaan internet untuk meningkatkan pendidikan publik di Amerika. Pada akhir 1990-an, banyak sekolah yang diberi internet dan mendapatkan laboratorium komputer. Bagaimanapun, banyak politisi dan orangtua yang tidak merealisasikan pelajar menggunakan internet untuk mendorong penelitian baru, dipengaruhi cara guru menggabungkan sumberdaya internet kedalam pengajarannya. Dalam banyak kasus, meskipin sekolah diberi akses pada internet, guru tidak dibantu dalam mengembangkan minat dan cara terbaik dalam mengajar menggunakan layanan internet.

Peneliti IS mengharapkan bahwa akan ada perbedaan mendasar pada nilai pendidikan intenet pada sekolah, dimana guru mempunyai cukup dukungan untuk memikirkan dan mengaplikasikan cara baru dalam mengajar, dibanding dengan sekolah yang tidak memiliki (intenet).

Dengan demikian, peneliti IS tidak akan mengharapkan untuk menemukan akibat yang sama pada lintas sekolah yang menerima koneksi internet.

Bersambung..

Bookmark and Share

Pentingnya Paradigma Socio-technical Systems

Pentingnya Paradigma STS

Singkatnya, teori sosioteknis adalah relevan, karena fokusnya pada keseimbangan dan kesetimbangan dari keseluruhan organisasi, orang, mesin dan konteks.
Ada beberapa pertanyaan yang mendorong majunya literatur Socio-technic. Pertanyaan pertama adalah “kenapa sistem gagal?” secara umum, “kenapa meskipun teknologi dibangun/disain dengan bagus dapat berakhir dengan produksi/hasil yang kurang dari batas efisien, yang tidak memenuhi keinginan stakeholder. Ini berpusat pada bagaimana mengelola faktor yang tidak terprediksi dari lingkungan sosial. Pertanyaan kedua, “bagaimana meningkatkan organisasi melalui pemberian perhatian dan optimasi sejajar pada sosial sistems. Ini terekspresi pada kutipan mendasar oleh Baxter dan Sommerville:

“Kegagalan dari sistem komplek yang luas untuk memenuhi batas waktu capaian, biaya dan keinginan stakeholder tidak karena kegagalan teknologi. Namun, projek ini gagal karena mereka tidak menghargai kompleksitas sosial dan organisasional dalam lingkungan dimana sistem itu di terapkan. Konsekuensinya adalah persyaratan yang tidak seimbang, miskinnya disain system dan interface user yang inefisien dan inefektif.”

Oleh karena itu, pengakuan kepada konteks sosial, dan kontek latarbelakang organisasional harus di kedepankan dalam rekayasa system dan software. Sebagai tambahan, paradigma STS menawarkan manajemen-diri (self-management) dalam tim organisasi, menggiring pada praktek kerja yang demokratis serta pengambilan keputusan yang tidak terpusat. Hal ini memungkinkan organisasi untuk menyesuaikan perubahan konteks dan varian, dan diakhiri dengan sistem yang lebih “terbuka”, yang memelihara keadaan yang kokoh/mantab (mencapai tujuan produksi, dll), tanpa mengkompromikan kualitas output atau kualitas keberlangsungan kerja.

Perspektif Socio-technical
Area dari STS, dari perspektif IT didudukkan pada kelompok “software intensive systems”, dimana “berisi interaksi kompleks antara komponen software, alat dan komponen sosial (orang atau kelompok orang), tidak sebagai pengguna software tapi sebagai pemain yang digunakan dalam sistem pada umumnya”. Dalam literatur definisi dari STS terpusat secara jelas pada eksistensi subsistem inti pada sosial dan teknical. Hubungan antara dua subsistem ini berputar dan berdasar pada dorongan saling memberi manfaat diantara keduanya. Manusia/sistem sosial rasional membutuhkan sistem teknik untuk melakukan kegiatannya, dan sistem teknis bergantung pada sosial sistem untuk penggunaan sehari-hari, validasi, kontrol dan kegiatan lain yang membutuhkan aktor rasional atau bahkan aktor yang berpengetahuan.

Interaksi diantara sistem yang berbeda ini, dan konteks interaksinya mempunyai akibat pada kemampuan orgnisasi untuk mencapai tujuan stakeholder.

Terutama sekali, paling tidak ada empat pandangan berbeda dalam literatur mengenai STS, yaitu social scientist, technology engineer, organizational scientis and designer, dan complex systems engineer. Disiplin ini menunjukkan penelitian interdisilin yang diarahkan pada area social science, organizational science, engineering dan complex systems. Literatir social sciences sering menganggap STS sebagai serangkaian alat untuk meningkatkan kualitas keberlangsungan kerja manusia dalam organsasi.

Perspektif yang berlawanan dengan teknologi berfokus terutama pada membangun kualitas sistem teknologi yang mempunyai jaminan kualitas (berdasar kepraktisan umum). Sudut pandang ilmuan organisasional lebih terpusat, bertujuan untuk mengelola tujuan riil stakeholdel (efisiensi, keuntungan) melalui disain dari konsep organisasi yang sesuai, termasuk barangkali struktur/hirarki manajemen dari sistem sosial, serta memperoleh dukungan teknologi terbaik, dan menyewa orang-orang terbaik. Keempat adalah teknik sistem yang kompleks, dimana mengeksplorasi interaksi da ontek dalam rangka menyusun tiap komponen secara lokal, sebagai langkah untuk menemukan tujuan organisasi secara umum. Pandangan ini juga utama, dan punya banyak masalah, bertujuan pada pembuatan sistem teknologi yang adaptif yang mendukung dan mengantisipasi pembuatan keputusan oleh manusia, tugas-kerja, dan kriteria komunikasi sebagai sistem komputasi yang otonom. Pendekatan ini berada diantara yang terbaru dan menjadi availabel, menyandarkan pada keandalan teknologi, dan jaringan sensor komuter yang ada dimana-mana.

Artikel Terkait

Bookmark and Share

Socio-Technical Systems in ICT: A Comprehensive Survey

(terjemahan bebas, sebebas-bebasnya dari artikel Alexis Morris) :)

kalau ada yg berkenan mengedit, bisa tulis di komentar.

Pada setiap organisasi, baik berisi manusia, mesin maupun fenomena alami, prinsip-prinsip sistem yang komplek akan berjalan. Komponen pada sistem itu bisa aktor yang rasional, semi rasional, atau tidak rasional, dimana semuanya berimplikasi pada lingkungan juga pada keseluruhan organisasi.

Pada tulisan ini, cakupan STS (Socio-technical systems) yang luas akan di survei dan dipaparkan bedasar empat perspektif kunci yang ditemukan dalam literatur. Prinsip ini bertujuan untuk menunjukkan sulitnya STS bekerja, serta untuk mendiskusikan teori, analisis, disain, dan teknik dari tiap sistem. Bagian kedua membahas konsep secara lebih ditail, mendeskripsikan definisi, karakteristik, prinsip dan pentingnya paradigma. Bagian 3 mendeskripsikan perbedaan dalam berbagai perspektif dalam hubungannnya dengan STS. Bagian 4 mendiskusikan pendekatan literatur pada perspektif yang disebutkan sebelumnya. Baguan lima menyajikan diskusi dan kesimpulan dari paper ini.

STS
: Socio-Technical Systems
Definisi: definisi singkat untuk STS sulit untuk ditemukan yang paling tepat dalam literatur. Majchzrak dan Borys mencatat bahwa konsep ini berdasar pada teori sistem terbuka, namun dalam suatu waktu juga ’sebuah filosofi dan metodologi, paradigma yang terdiri dari skema konseptual, disain proses, serangkaian nilai tentang kerja, kondisi kontekstual, dan tradisi sejarah berdasar psikologi, sosiologi dan penelitian tempat kerja”. Griffit dan Dougherty, dalam diskusinya tentang peran sistem ini pada management teknologi dan engineering, mendifinisikan perspektif STS sebagai ” organisasi yang dibangun oleh manusia (sistem sosial) menggunakan alat, teknik dan pengetahuan (technical sistems) untuk menghasilkan barang atau layanan yang bernilai untuk customers (yang menjadi bagian dari lingkungan eksternal organisasi)”. Definisi yang lebih linear dengan ranah ICT adalah yang diungkapkan oleh Baxter dan Sommerville. STS adalah “sistem yang berisi interaksi kompleks antara manusia, mesin dan aspek lingkungan dari sistem yang berjalan”.

Karakteristik dan Prinsip STS

Kebetulan ada banyak istilah yang mirip pada literatur yang menjelaskan sistem sejenis yang kurang lebihnya adalah socio-technic, sebagaimana dijelaskan diatas. Diantaranya adalah: techno-social systems, cyber-physical systems, ensemble engineering, software intensive systems, holarchies, actor-network theory, agent-oriented mechanism design, autonomic computing, dan societal computing. Baxter dan Sommerville telah menyajikan survei yang lebih komprehensive pada STS dari perspektif ICT, dan menghasilkan beberapa karakteristik kunci dari sistem tersebut dan prinsip dasar untuk disain sosio-teknologi. Mereka juga memotivasi adanya kebutuhan untuk menggabung lebih dalam lima komunitas kunci dalam satu kesatuan tunggal disiplin Socio-Technocal Systems Engineering (STSE).

Komunitas kunci pada penelitian Socio-technical
Ada banyak aspek dalam penelitian STS, tapi diantaranya merupakan kunci untuk mempercepat perkembangannya. Kunci-kunci tersebut adalah:

    - disain kerja dan tempat kerja
    - sistem informasi
    - Computer-supported cooperative Work (CSCW)
    - cognitive systems engineering
    - Interaksi manusia-komputer
    - Ubiquitous (dimana-mana) Computing.

Karakteristik kunci dari sistem sosio-teknik
Bagian ini memberi catatan bagaimana membedakan STS, berdasarkan karakteristik umum

    - Mempunyai bagian yang saling bergantung
    - Dapat menyesuaikan pada perubahan dalam lingkungan untuk mengejar tujuan
    - Mempunyai lingkungan internal sama sebagaimana lingkungan sebenarnya (real world)
    - Terpisah, tetapi saling bergantung, baik subsistem sosial maupun teknis
    - Berjalan pada lingkungan dimana ada pilihan/pembuatan keputusan
    - Adanya perpaduan optimisme, dari systems berdasar optimisme tiap subsistems

Lebih lanjut, Trist mendeskripsikan karakteristik STS berikut sebagai paradigma, menunjukkan bagaimana pendekatan penelitian STS berbeda dari faktor teknologi sebagai penentu.


Paradigma lama
Pentingnya teknologi
manusia merupakan perpanjangan mesin
manusia sebgai suku cadang habis pakai
rincian tugas maksimal, ketrampilan terbatas
kontrol eksternal (supervisor, staf khusus)
bagan organisasi tinggi, gaya otokrasi
kompetisi, gamesmanship
hanya kepentingan organisasi
pengasingan (alienation)
kemauan ambil risiko rendah


paradigma baru
gabungan
manusia saling mengisi dengan mesin
manusia sumberdaya yang dapat ditingkatkan
kelompok tugas optimal, ketrampilan beragam
internal kontrol (self regulating subsystems)
bagan organisasi datar, gaya partisipatif
kolaborasi, kolegial
ada kepentingan/tujuan masyarakat dan anggota
commitment
penuh inovasi


Prinsip kunci STS

beberpa prinsip disain STS lebih lanjut ada dalam banyak literatur, tapi yang paling populer adalah yang diungkapkan Chern. Pendekatan lain dari disain STS dalam paper yang sama (Chern), memuat analisis kerja kognitif, disain kontekstual, rekayasa sistem kognitif, diantaranya. Point pentingnya adalah prinsip disain STS dipelajari dengan baik, tapi gagak diadopsi dalam ranah praktis dengan berbagai alasan, yang mana dapat dikoreksi melalui penggabungan area tersebut sebelumnya. Cern mencatat bahwa sosial sistem mempunyai empat fungsi subsistem yang harus ada dalam sistem yang sukses/berhasil, dan oleh karena itu harus di teliti oleh desainer. Yaitu harus:
- mencapai tujuan organisasi
- menyesuaikan diri dengan lingkungan
- menyatukan aktifitas manusia dan menjadi solusi masalah
- fill occupational roles via recruitment and sosialization

bersambung…

Bookmark and Share

FB, Prita, KPK dan Opensource: Gotong royong era digital.

Gotong royong. Tahukah anda apa itu gotong royong? Gotong: merupakan bahasa jawa yang artinya membawa sesuatu bersama sama. Misalnya nggotong kayu (Menggotong kayu).

Gotong royong, sejauh yang saya pahami (saya tidak membuka kamus bahasa Indonesia atau kamus bahasa Jawa) adalah kegiatan melakukan sesuatu bersama-sama -untuk hal positif- tanpa mengharap imbalan materi. Dilakukan untuk membantu yang memerlukan bantuan, atau membantu orang yang kesusahan. Misalnya gotong royong mendirikan rumah, gotong royong mencangkun disawah dan seterusnya.

Seorang kawan, sewaktu kuliah pernah presentasi bahwa budaya gotong royong ini telah terkikis, belum hilang sepenuhnya. Katanya ini karena dampak globalisasi, karena manusia lebih cenderung hidup individualis, sibuk dengan kegiatan pekerjaan yang berorientasi pada materi semata ditempat kerja. Sehingga lupa bahwa dia hidup di wilayah sosial kemasyarakaatan.

Apakah demikian?
Sebagai seorang awam saya melihat bahwa seiring dengan tumbuh suburnya teknologi, modernisasi, globalisasi dan yang semacamnya, gotong royong tradisional memang tergeser. Namun muncul model gotong royong baru.

Facebook, yang banyak orang menyebutnya sebagai jejaring sosial ternyata menyuguhkan fenomena tersendiri. Setidaknya ini ditunjukkan dengan berhasilnya FB menggalang solidaritas tanpa pamrih material atas kasus Bibit dan Chandra (KPK). Gerakan 1 juta FB-kers yang mendukung mereka berdua ternata punya andil pula dalam mewarnai gerakan sosial di Indonesia.

Meskipun sempat redup, karena kalah pemberitaan dengan kasus Bibit dan Chandra, sebelumnya ada group FB mendukung Prita, seorang ibu rumah tangga yang didakwa melakukan pencemaran nama baik RS OMNI. Pasalnya Bu Prita ini menuliskan keluhannya dan dikirimkan ke beberapa kawannya.

Anggota group pendukung Prita memang tidak sebanyak pendukung Bibit dan Chandra, namun terbukti gerakan ini juga punya taring. Setelah ada vonis harus membayar 204-juta, berbagai elemen masyarakat menggalang Koin untuk Prita. Tentunya untuk membantu bu Prita membayar denda. Prita dianggap sebagai simbul rakyat yang kalah, ketika harus mengeluarkan pendapat atas sebuah layanan justru dituduh melakukan pencemaran nama baik.

Pengumpulan koin ini, dilakukan oleh berbagai elemen, mulai dari komunitas milis, Facebookers, ibu rumah tangga, anak-anak, bahkan ada sekelompok anak TK yang keliling meneriakkah “Hidup Ibu Prita”.

Entah karena fenomena ini atau bukan, kabarnya OMNI bermaksud mencabut gugatan perdata.

Saya sendiri berfikir, bahwa kalau yang bersimpati sudah lintas umur, etnis dan tempat tentunya ini akan berdampak buruk bagi RS OMNI. Kenapa? coba kita bayangkan kalau anak-anak sudah dikenalkan untuk menggalang Koin Untuk Prita, karena di denda atas email keluhan layanan RS OMNI. Tentunya dalam benak anak-anak TK yang berkeliling mencari koin ini akan tahu dan terpatri, bahwa RS OMNI lah yang menjadikan bu Prita harus membayar denda. Padahal siapa sih sasaran Rumah Sakit? manusia kan? rakyat Indonesia ini. Dan kalau yang TK saja sudah tahu, maka berapa generasi yang akan menjauhi RS ini.

Tentunya ini tidak akan berdampak baik pada kelangsungan RS yang bersangkutan di masa datang.

Opensource, yang merupakan model pengembangan perangkat lunak juga bisa dimasukkan dalam gotong royong. Berbagai individu dan komunitas bersama-sama mengembangkan sebuah perangkat lunak, padahal di lepas di pasaran secara bebas. Baik bebas mendapatkan maupun [ada yang] bebas secara finansial.

Sepertinya demikian.

Bookmark and Share

Workshop Nasional SENAYAN Library Management System!!!

SENAYAN DEVELOPER COMMUNITY (SDC) kembali akan ngadain Workshop Nasional SENAYAN Library Management System (SLiMS), yang tepatnya akan dilaksanakan di Hotel Paragon Jakarta (daerah Menteng, Jakarta Pusat), pada tanggal 14 – 17 Desember 2009. Pastinya karena Workshop ini diadakan selama 4 hari 3 malam full, jadi materi yang diberikan juga akan sangat banyak dan men-detail.

Workshop ini ditujukan kepada para pustakawan atau perorangan yang ingin memanfaatkan SLiMS untuk mengelola koleksi ditempat kerja. Materi workshop dirancang untuk membantu para peserta agar dapat segera mengaplikasikan SLiMS di tempat masing-masing. Dibagi dalam 10 (Sepuluh) modul dasar ditambah materi kustomisasi dan konversi data, pengetahuan dasar perpustakaan akan sangat membantu peserta memahami materi dan panduan yang di sampaikan. Dalam pelatihan, peserta akan menggunakan versi terbaru SLiMS – atau juga dikenal dengan SENAYAN 3 stable 12.

Untuk brosur pendaftaran serta surat undangan bisa di-unduh (download) di Workshop SLIMS.

Untuk anda yang ingin belajar menggunakan SENAYAN, ngoprek, nginstall SENAYAN di GNU/Linux macem Ubuntu, Fedora atau OpenSUSE, pengen belajar cara konversi data dari database ISIS, Athenaeum atau database lainnya, jangan lewatin Workshop SLiMS ini. Trainer-nya juga langsung para Developer ASELI SLiMS!!!.

(dari Arie Nugraha)

Bookmark and Share

Release Senayan3-Stable12

Senayan is an open source Library Management System. It is build on Open source technology like PHP and MySQL. Senayan provides many features such as Bibliography database, Circulation, Membership and many more that will help “automating” library tasks. This project is proudly sponsored by Pusat Informasi dan Humas Depdiknas and licensed under GPL v3.

And now, Senayan3-Stable12 is released. The new features is:

- Added : Member login in OPAC
Next, member login usefull to develop web 2.0. So the member can write command to the collections.
- Added : File download limitation based on Member type
- Added : new public template (igos & terrafirma)
- Added : new admin template (igos)

You can download the source here
The last documentation is available in here

Bookmark and Share

Freedom, Aero dan Classic Template untuk SLiMS

Berikut template Freedom, Aero dan Classic untuk SLiMS (Senayan3-stable11).

Mohon komentar :)

Aero download

Freedom download

Classic download

Semoga bermanfaat

Bookmark and Share

Sinergisitas pustakawan-mahasiswa-dosen/pegawai: prepare and serve

tulisan ini adalah bagian dari tugas matakuliah PR & Promosi Perpustakaan


Libraries are not made; they grow. - Augustine Birrell

Saya tidak tahu persis kapan perpustakaan Teknik Geologi UGM berdiri. Sepengetahuan saya, perpustakaan jurusan ini ada sebagai peleburan dari perpustakaan-perpustakaan kecil yang sebelumnya ada di laboratorium-laboratorium jurusan. Karena koleksi semakin banyak dan ruangan juga digunakan untuk praktikum, maka muncul perpustakaan jurusan. Letak perpustakaan ini juga berpindah, mengikuti berpindahnya gedung jurusan. Mulai dari Jetis, Skip, Jl. Flora hingga akhirnya ada di Jl. Grafika.

Pengelolanya merupakan pegawai administrasi yang ditempatkan di perpustakaan. Hingga kemudian saya masuk, merupakan karyawan pertama dengan ijazah ilmu perpustakaan. Namun demikian, yang saya ketahui karena lamanya mereka bekerja di perpustakaan, tingkat pengetahuan mereka pada koleksi tinggi, tidak sebatas judul-judul buku namun juga beberapa pokok isi buku yang bersangkutan, terutama buku-buku babon.

Karena merupakan gabungan dari koleksi-koleksi laboratorium, tingkat kunjungan mahasiswa dan dosen relatif tinggi.

Awal-awal bekerja

No furniture so charming as books. - Sydney Smith

Pada awal-awal bekerja di perpustakaan teknik Geologi UGM, ada kelebihan dan kekurangan yang saya rasakan. Ruangan yang sempit, sistem teknologi yang masih tertinggal, sirkulasi udara ruang perpustakaan yang tidak optimal, dan juga belum terkelolanya koleksi digital. Namun demikian saya merasa bahwa pihak manajemen terbuka luas pada ide-ide baru untuk pengembangan perpustakaan.

Sebagai gambaran, perpustakaan teknik Geologi UGM pada awal saya bekerja ada di sudut dalam gedung jurusan. Karena letakknya di dalam ini, maka sirkulasi ruangan mengandalkan AC, tentunya menjadi tidak sehat karena pada kesehariannya ruangan ini dipenuhi oleh banyak mahasiswa. Pangkalan data yang kami gunakan adalah SIPISIS, dimana diketahui merupakan sebuah perangkat otomasi yang masih berbasis DOS.

Koleksi-koleksi digital mulai ada, baik skripsi, tesis, referat maupun artikel-artikel sumbangan dosen. Semakin banyaknya koleksi digital ini menjadi semakin sulit temu kembalinya, karena hanya disimpan dalam hardisk dan dibuka lagi jika ada mahasiswa mencari. Jika mahasiswa hanya menanyakan sebuah subyek artikel tanpa tahu artikel itu ada pada jurnal apa, maka kami akan mengalami kesulitan.

Menentukan sikap

Your library is your portrait. - Holbrook Jackson

Melihat kenyataan yang ada, kami memberanikan diri untuk mengajukan proposal pengembangan perpustakaan. Salah satunya berisi usulan untuk memindah ruang perpustakaan ke tempat sisi luar gedung. Pilihan ini dilakukan dengan alasan bahwa disisi luar gedung akan lebih sehat karena ventilasi udara lebih terjamin. Selain itu juga akan mengurangi ketergantungan pada tenaga listrik, cahaya matahari tentunya akan masuk dan menerangi perpustakaan. Hal ini sangat terasa ketika energi listrik mati

Usulan pindah ruang ini ternyata disetujui, tepatnya pada bulan Februari 2007 perpustakaan teknik geologi pindah ke ruang baru (Ruang 1.1) yang terletak di sisi barat gedung jurusan Teknik Geologi UGM.

Pada perpustakaan ini, saya bekerja 2 orang. Awalnya ada 3 orang, namun 1 orang kemudian dipindah di bagian akademik. Rekan kerja saya telah bekerja lebih dari 10 tahun di perpustakaan. Dalam kegiatan keseharian kawan saya lebih ke pelayanan sirkulasi dan klasifikasi, sementara saya lebih banyak berurusan dengan komputasi dan pengolahan.

Beberapa capaian

Librarians are subversive. You think they’re just sitting there at the desk, all quiet and everything. They’re like plotting the revolution. –Michael Moore

Ada beberapa capaian pelayanan perpustakaan dalam 2 tahun terakhir:

1. Pindah ruang

Sebagaimana saya ceritakan diatas, berhasilnya perpustakaan pindah ruang merupakan sebuah prestasi sendiri bagi kami. Kami merasa bahwa perpustakaan merupakan unit yang diperhatikan. Tentunya ini merupakan sebuah kepercayaan yang mesti dijaga.

2. Adanya katalog online

Perkembangan teknologi memacu kami untuk berinovasi. Dengan belajar terus, akhirnya saya berhasil membuat katalog kami dapat online di internet pada alamat http://geologi.ugm.ac.id/lib. Sebelumnya, kami menggunakan model “salin katalog”. Model ini kami tawarkan pada mahasiswa yang ingin mengcopi katalog perpustakaan dan mencari koleksi yang ada dirumah. Semacam portable catalog.

Perangkat yang saya gunakan berbasis opensource. Sehingga tidak terasa membebani anggaran perpustakaan.

3. Terbaharuinya sistem otomasi perpustakaan

Melihat SIPISIS sebagai sistem otomasi sudah tidak memadai, maka kami memutuskan untuk mengganti dengan yang lebih baik. Akhirnya terpilihlan Senayan sebagai gantinya, sejak bulan Maret 2009.

4. Adanya repositori koleksi kuliah

Di perpustakaan, kami juga menyediakan komputer sebagai tempat menyimpan materi-materi kuliah yang didapat dari dosen, ataupun file-file yang berhubungan dengan kegiatan perkuliahan lainnya. Dengan komputer ini mahasiswa dapat saling menukar koleksi.

5. Mulai dirintisnya koleksi dan layanan untuk karyawan.

Saat ini kami telah memulai menyediakan koleksi-koleksi yang dapat dikonsumsi oleh karyawan. Misalnya dengan melanggan majalah-majalah umum (National Geographic), surat kabar (mulai pada pertengahan 2007), membeli buku-buku umum, melayani karyawan yang ingin menelusur informasi di internet dan lainnya.

6. Adanya pelayanan internet dan WiFi area di perpustakaan.
7. Adanya sarana blog (http://lib.geologi.ugm.ac.id) dan Grup di Facebook untuk penyebaran informasi perpustakaan.
8. Pelayanan pemesanan, perpanjangan peminjaman menggunakan email/SMS.
9. Tambahan koleksi baru (buku/jurnal) dari berbagai hibah.
10. Koleksi digital (jurnal, buku) bertambah hingga 30GB. Ini kami dapatkan dari mahasiswa, dosen dan pembelian.

Pertambahan koleksi digital dan buku, jurnal tercetak ini sangat menambah kekuatan koleksi perpustakaan.

Memantabkan sinergisitas

I have always imagined that Paradise will be a kind of library. –Jorge Luis Borges

Pada dasarnya masih ada banyak hal yang belum tercapai. Ke depan kami berharap perpustakaan Teknik geologi ugm dapat lebih bermanfaat lagi tidak hanya pada mahasiswa dan dosen berkaitan dengan perkuliahan, tapi juga bagi para karyawan. Bukankan perpustakaan ini memang untuk semua anggota jurusan teknik geologi ugm?

Secara terperinci, capaian-capaian yang masih ingin kami raih adalah:

1. Pelayanan perpustakaan juga mencakup karyawan

2. Adanya pengelolaan local contents yang mumpuni

3. Terkelolanya koleksi digital dengan baik

4. Terkelolanya koleksi jurnal dengan baik

5. Terdayagunakannya teknologi informasi secara lebih optimal untuk pelayanan perpustakaan.

6. Pendidikan pemakai

7. Database tugas akhir mahasiswa dilengkapi dengan abstrak

8. Adanya evaluasi terukur secara berakala

9. Ikut berkontribusi pada pengembangan keilmuan, baik dengan melakukan penelitian sederhana, sebagai tempat penelitian, atau berkolaborasi dengan mahasiswa ilmu perpustakaan.

Selain hal tersebut diatas, untuk mewujudkan prepare and serve kami berupaya menjadi jembatan antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa dan mahasiswa dan juga dosen/mahasiswa dengan karyawan. Berbagai macam bentuknya, mulai dari melayani mahasiswa yang bertanya NIP dosen, nomor HP karyawan, menitipkan file, email dosen, menitipkan buku untuk mahasiswa lain. Kemudian karyawan yang bertanya nomor HP mahasiswa, karyawan yang minta dibantu mencari informasi di internel serta hal lainnya.

Kami ingin, motto prepare and serve menjadikan pemicu untuk dapat berkarya lebih baik lagi. Sampai saat ini, meskipun telah ada kemajuan-kemajuan, kami tidaklah boleh berhenti. Perencanaan strategis masih harus kami lakukan untuk dapat mencapai kembali capaian optimal.

Tentunya, dukungan anda akan menjadikan pemicu itu lebih besar lagi. Menempatkan diri menjadi bagian perpustakaan, adalah awal dari membuka kehidupan kita, sebagaimana Rita Mae Brown katakan “When I Got My Library Card, that’s when my life began

Bookmark and Share
  • StatPress

    Visits today: 43
  • Lomba Blog UII

  • Status Alat Komunikasi

  • Awan Tag

  • Uluk salam


    ShoutMix chat widget
  • Komentar Terakhir

  • Kategori

  • Arsip Tulisan

  • RSS Mustoko

  • Admin

  • Plurk-ku